[Chapter 06 : Kisah dari Yellow Temple ]

130226“Makhluk apa kau ini, wahai yang tak bertanduk?”

Sang Ratu dengan lembut melontarkan pertanyaannya pada Aika yang berlutut di hadapannya. Tak ada kesan memaksa. Meski tak tersenyum, sang Ratu peri itu memberikan kesan ramah bagi siapapun yang melihat sosoknya. Dari penampilannya pun, jelaslah ia keturunan seorang ningrat.

“N-Namaku Aika, Y-Yang Mulia. A-Aku adalah manusia.. A-Aku tak berasal dari sini,” jawab Aika, masih gemetar. Sempat ia meneguk ludah sebelum mencoba membuka mulutnya lagi, tapi berkat seorang elf di belakang sang Ratu, niatnya terpotong.

“Apa hubunganmu dengan penduduk Redland? Kau pasti ada kaitannya dengan mereka, bukan?!”

Ketika elf tersebut mulai menaikkan suaranya, sang Ratu mengangkat tangannya sebagai isyarat. “Tenang, wahai penasihat. Jangan berprasangka dulu. Lihatlah ia. Apakah ia terlihat seperti sedang berbohong? Kau malah membuatnya takut.”

“Maafkan aku, Permaisuri,” elf wanita tersebut agak menunduk setelah mendapat teguran langsung dari sang Ratu. “Saya hanya tak dapat mempercayainya.”

“Tenangkan dirimu dulu. Secara pribadi, aku merasa ia makhluk yang dapat dipercaya,” sang Ratu melanjutkan. Kedua manik emasnya kemudian tertuju pada Aika. Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Melihat itu, Aika merasa lebih lega. Gemetarnya perlahan hilang. Syukurlah, sang Ratu tak melihatnya sebagai ancaman,

“Lepaskan ikatan tangannya, wahai prajurit. Aku ingin berbicara secara pribadi dengannya.” Sang Ratu peri kemudian bangkit dari singgasananya. Ia berjalan mendekati Aika dan mengulurkan tangannya. Begitu ikatan yang menahan kedua pergelangan Aika terlepas, Aika meraih tangan sang Ratu dan berdiri. Aika pun tersenyum canggung. Ah, sang Ratu benar-benar terlihat sebagai orang terhormat. Apalagi dari jarak dekat.

“Namamu Aika, ya? Kemarilah, mari kita berbincang dengan damai. Aku tak suka kekerasan.”

Sang Ratu kemudian mengajak Aika berjalan menyusuri karpet kuning yang terbentang panjang menuju balkon istana. Sambil berjalan, Aika melihat sekeliling. Istana tersebut sama sekali tidak tertutup seperti istana berdinding bata. Angin dapat dengan mudahnya masuk dan keluar area itu. Tak hanya itu, pemandangan langit biru cerah dihiasi berbagai ukuran pulau terbang lainnya terlihat sejauh mata memandang. Pulau-pulau tersebut ditumbuhi oleh berbagai macam pepohonan. Uniknya, Aika menyadari bahwa pepohonan di sana menghasilkan buah yang aneh, yakni sabun dan peralatan kebersihan. Baiklah, itu benar-benar aneh. Pohon apa yang dapat menumbuhkan sabun batangan dan sikat gigi? Di bumi sama sekali tak ada.

Kemudian, ia sama sekali tak melihat adanya bangunan seperti rumah. Kemungkinan besar, istana besar itulah rumah bagi seluruh penghuni pulau yang terdiri atas peri-peri, manusia burung, dan makhluk mistis yang lembut dan cerdas lainnya. Benar-benar bagai sihir. Hanya saja.. Tempat itu terlihat agak kotor.

Sesampainya di balkon, kedua mata Aika membulat. Pemandangan indah tersuguh di hadapannya. Mentari di cakrawala mewarnai langit dengan cerah. Berbagai ukuran peri sedang asyik bersenda gurau, memainkan sihir dan melakukan berbagai macam hal lainnya.

“Selamat datang di Yellow Temple, rumah kami.” Sang Ratu yang menyadari Aika sedang menikmati pemandangan itu menyambutnya ulang.

“T-Terima kasih, Yang Mulia. Tempat ini menakjubkan,” respon Aika sambil tersenyum. Ia masih takjub melihat dunia di atas awan itu.

Tapi perlahan senyumnya hilang, mengingat perkataan Sir Loyd di Tavern. Bukankah menurut Sir Loyd tempat ini tempat makhluk-makhluk licik?

“Tapi jika boleh tahu, mengapa tempat seindah dan semenakjubkan ini begitu dibenci oleh Redland, Yang Mulia? Apa yang terjadi?” Aika bertanya dengan soan. Sang Ratu hanya tersenyum.

“Sepertinya Loyd sudah bercerita banyak padamu ya, Aika. Aku takkan menyalahkannya. Sepertinya ia memang masih mengira kami pencuri batu pusaka mereka.”

“Apakah itu benar, Yang Mulia?”

“Tentu saja tidak. Sejujurnya.. batu pusaka kami juga dicuri. Saat itu, aku meminta pasukanku untuk mengabari Loyd di Redland. Tapi tak kusangka, ia mengira kami menyerang mereka. Akhirnya terjadilah salah paham, dan lahirlah perang.”

“Batu pusaka di sini juga dicuri?” Aika menatap sang Ratu dengan penuh rasa penasaran.

“Benar. Kerajaan ini dulunya tidak kusam seperti ini,” ujar sang Ratu sambil mengusap dinding kastilnya itu. “Kerajaan kami, Yellow Temple, dulu lebih makmur, bersih, dan indah. Kami pun rukun dengan daerah tetangga seperti Redland. Berkat kekuatan batu pusaka kami, kami pun dapat menumbuhkan pepohonan dengan berbagai produk kebersihan yang dibutuhkan Swapandara.”

Sang Ratu menunjuk ke arah sebuah pohon besar di hadapan mereka. Pohon tersebut menumbuhkan sesuatu berbentuk persegi panjang, yang tidak lain adalah sabun batang.

“Tapi…” Wajah sang ratu terlihat sedih. “Seseorang mencuri batu kami. Tanpa batu itu, sabun-sabun tersebut tak lagi bisa dicabut dari pohonnya. Kami tak bisa lagi menyebarkannya ke seluruh Swapandara. Bahkan membersihkan kerajaan ini pun sulit.”

Aika terdiam. Entah, ia sebenarnya merasa aneh dengan kisah pohon yang menumbuhkan sabun. Tapi, ia merasa iba di sisi lain.

“Seperti apakah batu kuning ini, Yang Mulia?”

“Batu itu.. Tampak bagai Sang Fajar di siang hari. Baik kilau ataupun warnanya yang kuning keemasan. Ukurannya sekepal tanganmu. Bentuknya bagai kupu-kupu yang membentangkan sayapnya dengan bebas,” jawab sang Ratu.

Aika mencoba membayangkan bentuk batu itu. “Bagaimana dengan pencurinya? Apa Anda tahu sesuatu?”

“Yang pasti ia bukan penduduk Redland, melihat Loyd yang begitu kesal terhadapku dan kerajaan ini. Tapi yang kuingat, sosoknya berjubah gelap, nyaris segelap malam tanpa bintang ataupun rembulan. Kemampuan pelaku itu rasanya misterius, bahkan mendekati menyeramkan.”

Kedua alis Aika bertaut. Ia mencoba menebak sosok yang digambarkan sang Ratu dengan petunjuk yang cukup abstrak itu.

Ketika pikirannya sedang fokus mencari jawaban, ia melihat pasukan burung Garuda datang menghampiri dalam satu gerombolan besar, membawa sesuatu—atau seseorang—bersama mereka.

Apa itu?

[To be Continued]

[Chapter 05 : Kerajaan Di Dekat Mentari]

 

STORY5colored

Pedang sang pemimpin Redland teracung ke arah Aika dari jarak yang cukup dekat. Sorot matanya menajam kala menatap si gadis dan penggembala domba yang berdiri di sampingnya. Seluruh mata di dalam Tavern tertuju pada ketiga sosok utama itu, memandang mereka dengan rasa takut menghiasi tiap wajah.

“Siapa kalian sebenarnya? Jawab aku!” Titah Sir Loyd dengan nada yang tegas dan lantang, masih sambil mengangkat pedangnya yang tajam.

“A-a-aku.. Aku..” Aika bergetar hebat, merasakan rasa takutnya kian memuncak. Tangannya perlahan meraih ujung lengan baju si penggembala, menarik-nariknya pelan seolah meminta bantuan. Tapi apa daya, sosok yang ia mintai itu juga mematung di tempat. Ekspresinya terlihat dilanda rasa bingung, tak tahu jawaban apa yang harus diberikan.

Tak kunjung dijawab, Sir Loyd mulai kehilangan kesabarannya. Salah satu kakinya mengambil satu langkah ke depan dan dihentakannya kuat-kuat terhadap lantai kayu itu, menimbulkan suara yang cukup keras.

“JAWAB AKU! CEPAT!”

BRAK!

Di tengah suasana yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu Tavern yang didobrak. Pasukan bersenjata panah dan tombak dengan pakaian serba kuning dan sayap perkasa bagai rajawali berbondong-bondong memasuki bangunan tersebut. Pasukan tersebut terlihat seperti manusia burung dalam baju besi. Keributan pun semakin menjadi setelahnya.

“KITA TELAH DISERANG!! KITA TELAH DISERANG!!” Seru seorang werebeast merah dari luar Tavern.

Para ksatria merah dengan sigap mencabut pedang dan kapak mereka, kemudian menerjang ke arah pasukan berwarna terang itu. Trang! Trang! Trang! Adu senjata tajam pun dimulai. Begitu juga Sir Loyd. Badan manusia naga itu langsung berbalik untuk berhadapan dengan salah satu prajurit elang yang mengayunkan pedangnya.

“Sial,” celetuk sang manusia naga.

Sementara itu, rakyat yang tak memegang apapun untuk pertahanan diri langsung berhamburan dari tempat tersebut, mencari perlindungan.

“Aika?!” Sang penggembala sibuk mencari si gadis kecil. Aika langsung menoleh, secepat mungkin berlari ke arah suber suara. Namun, sesuatu mencengkram lengannya dan menariknya. Sesuatu itu tak lain adalah tangan seorang prajurit kuning.

“Lepaskan aku!” Aika berteriak, namun tak didengar oleh yang menarik. Dalam hitungan detik, Aika ditarik keluar oleh prajurit bersayap itu dan dibawa terbang olehnya. Begitu juga beberapa penduduk Redland lainnya.

“Toloooooong!!!”

Fokus Sir Loyd sempat terganggu saat menyadari rakyatnya satu per satu tertangkap di tengah serangan mendadak itu. Panik, ia berusaha terbang keluar untuk merebut kembali apa yang diambil dari negerinya. Tapi apa daya, kemampuan terbangnya sudah lama hilang sejak batu merah dicuri. Bukan itu saja, jumlah pasukan kuning yang datang menyerang Tavern itu sangat banyak. Mereka berhasil membekukan gerakan Sir Loyd, dan akhirnya terbang meninggalkan Redland menuju langit biru yang luas.

Beberapa menit kemudian, jauh di langit, Aika hanya bisa pasrah dan berharap dirinya takkan dijatuhkan. Jauh di bawah kakinya yang melayang, terlihat daratan merah dan kelabu yang sedikit demi sedikit tertutup oleh awan. Entah apa yang akan terjadi jika mendadak dirinya dilepaskan oleh pasukan manusia burung itu. Besar kemungkinan ia akan kehilangan nyawa secara instan.

‘Ke mana mereka akan membawaku?’ Batin Aika bertanya. Begitu memandang jauh ke depan, ia melihat sesuatu yang tampaknya dapat menjawab pertanyaannya secara… aneh.

Pulau-pulau dengan berbagai bangunan kuno kini ada di hadapannya. Besar, megah, dan… melayang melawan gravitasi. Di balik pulau itu, matahari memancarkan sinar kuningnya yang terang namun tak menyilaukan. Pemandangan yang cukup indah, namun terasa tidak nyata. Di antara pulau-pulau tersebut, tampak sebuah pulau yang jauh lebih luas dari yang lain. Di sana, berdiri kokoh sebuah kastil yang agak kusam.

Tempat apa itu?

Manusia-manusia burung itu perlahan turun mendekati sebuah bangunan kecil dekat kastil yang dijaga beberapa elf. Dengan sigap mereka mendarat dan langsung berjalan ke dalam bangunan tersebut, membawa sanderanya menuruni tangga yang ada dalam bangunan kecil itu. Dilihat dari jeruji yang digunakan untuk menutup bangunan, tampaknya tangga itu mengarah ke rumah tahanan di pulau.

Sebelum memasuki bangunan, satu persatu sandera diperiksa oleh elf. Dari tanduk, sisik, wajah, hingga kaki dan ekor para penduduk Redland. Ketika salah satu elf memperhatikan Aika, ia mengernyit. Aika memandangnya balik dengan tatapan takut, berharap ia takkan diapa-apakan.

“Berhenti!” Titahnya pada prajurit yang membawa Aika. Elf tersebut kemudian menunduk untuk menyamakan tinggi kepalanya dengan kepala Aika. Elf tersebut terlihat seperti seorang pendekar wanita dengan rambut perak dan pakaian serba hijau berbahan kulit. Di pinggangnya terdapat sabuk tempatnya menyimpan belati. Ia benar-benar terlihat seperti peri hutan dalam kisah fantasi. Kedua mata jingganya menatap dalam mata Aika.

“Makhluk apa kau? Tak ada tanduk, ekor, ataupun sisik.”

“A-Aku m-manusia..”

“Manusia? Apa itu?”

“Ma-“

Belum sempat ia berbicara, elf dengan rambut perak terkuncir berjalan mendekat. Maniknya berwarna keemasan. Bajunya bernuansa kuning dan hijau, dengan celana coklat dan sepatu long boots berwarna hijau pula.

“Bawa dia ke hadapan sang Ratu. Sang Ratu juga punya pertanyaan yang sama,” potongnya dengan dingin dan tegas. Ia menatap tajam Aika sebelum berbalik dan berjalan pergi. Prajurit yang menahan Aika pun berjalan mengekori elf tersebut ke arah singgasana sang ratu.

Jantung Aika berdetak sangat cepat. Ia harus menghadapi sang ratu tanah itu? Apa yang harus dia lakukan? Otaknya seakan berputar menyusun rencana.

Sesampainya di hadapan sang ratu, Aika berhenti. Sang ratu di hadapannya memiliki rambut perak panjang yang tergerai rapi. Parasnya yang lemah lembut dihiasi manik keemasan yang kini tertuju pada Aika. Tanpa turun dari singgasananya, sang ratu bertanya.

“Makhluk apa kau ini, wahai yang tak bertanduk?”

[To Be Continued]

[Chapter 04 : Kisah Sang Manusia Naga]

“Kalau begitu, biarkan aku berbagi sebuah cerita menarik pada kalian.”

Dengan senyum lebar, sang manusia naga duduk menghadap Aika dan sang penggembala. Terlihat sekali bagaimana ia sangat ingin menyampaikan kisahnya pada dua figur asing di hadapannya. Ditemani beberapa gelas sirup dari Tavern dan beberapa petualang serta ksatria berbaju besi lainnya, ia memulai kisahnya dengan beberapa senda gurau yang tak dapat dimengerti Aika. Yah, secara, Aika tak berasal dari dunia itu. Tentu wajar jika ia tak tahu. Ia mencondongkan dirinya mendekati sang penggembala, berbisik padanya.

“Apa tak apa kita mendengarkan kisahnya dulu?”

“Mau apa lagi, kita tak tahu harus apa sekarang, kan? Aku sama sekali tak tahu soal dirimu. Ia mungkin tahu sesuatu tentang rasmu yang disebut manu.. ah, apapun itu,” balas sang penggembala dengan suara kecil pula.

“Swapandara, negeri yang penuh akan keajaiban. Berbagai warna, sihir, dan mimpi di seluruh dimensi berkumpul di negeri kita tercinta ini, bukan begitu?”

Sang manusia naga bercerita dengan cara yang interaktif; Ia memandang wajah orang-orang yang mendengar kisahnya satu-persatu, termasuk wajah Aika.

“Tentu kalian tahu soal negeri kita itu. Dan tentu, kalian tahu soal wilayah kita ini. Redland, yang dikenal sebagai tanah orang-orang tangguh seperti kalian dan aku. Redland yang pemberani. Redland tempat kita saling berbagi cerita hasil petualangan kita di berbagai penjuru Swapandara. Redland yang dijuluki wilayah saos tomat.”

“..Saos tomat?” Aika bergumam. Kedua alisnya bertaut heran. Apa itu sekedar kiasan karena wilayah itu memang merah semua atau sang manusia naga yang gagah perkasa namun berwibawa di hadapannya itu tak main-main mengatakannya?

“Redland memang dikenal dengan saos tomatnya yang enak dan mengandung banyak gizi. Kau tak tahu soal itu?” Sang penggembala berbisik pada Aika setelah mendengar gumamannya itu. Tentu tak mustahil perkataan Aika yang lirih terdengar oleh sang penggembala, mengingat mereka duduk sebelahan. “Malah, ada desas-desus kalau saos tomat itu dapat memberimu kekuatan kuda.

“Ah, begitu ya,” respon Aika singkat. Entah kenapa ia ingin terkekeh geli mendengar itu. Tempat ini sungguh aneh. Tapi tentu tak sopan jika ia tertawa tanpa sebab jelas di hadapan orang yang sedang berbicara.

Suara sang manusia naga kembali menjadi fokus utamanya. Wajah sang manusia bersisik itu tampak tenang namun tegas.

“Dahulu kita hidup berdampingan bersama kedua wilayah besar lainnya. Untuk beberapa alasan, aku tak begitu ingin menyebut nama tempat yang kumaksud,” ia berhenti sejenak, mengernyitkan dahinya. “Mereka dan kita memang beda paham dalam urusan kepercayaan. Karena itulah aku, pemimpin Redland, bersama kedua pemimpin wilayah lainnya sepakat untuk tidak saling berseteru soal hal itu. Tentu kalian juga tahu soal hasil perjanjiannya. Kita semua sepakat untuk tidak saling melukai satu sama lain karena bedanya paham itu, tapi…”

Sang manusia naga meletakkan gelas minumannya di atas meja kayu itu perlahan. Air mukanya terlihat lebih serius. Atau mungkin geram? Orang-orang pun taka da yang berani berkomentar.

“Perjanjian dilanggar. Seseorang mencuri batu mulia kita. Simbol kekuasaan kita. Ketika aku mencoba melihat keadaan batu mulia di kediamanku, ia telah lenyap. Seseorang merampasnya dari kita. Tanpa batu itu, semangat kita tiada. Sumber utama tenaga kita pun tak bisa diproduksi,” ujar sang manusia naga, sedih bercampur kesal.

Orang-orang sekitar Aika mulai berbisik-bisik. Mereka juga tampak memiliki kebencian yang sama seperti pemimpin mereka.

“Lalu mereka datang! Pasukan negara kuning! Pengkhianat perjanjian! Mereka menyerang persediaan tomat, makanan, dan persenjataan. Dengan sigap aku mencabut pedang, menantang utusan ratu mereka yang jahat itu!”

Sang manusia naga memeragakan gerakannya di hadapan orang-orang. Sementara itu, Aika kembali berbisik pada sang penggembala.

“Batu mulia? Maksudnya emas?”

“Emas? Astaga… Emas itu kan batu yang murah..”

“……………Murah?” Bukankah emas itu mahal, pikir Aika.

“Sepertinya kau memang amnesia ya.. Di Swapandara, ada tiga batu yang masing-masing mewakili warna utama. Ada merah, kuning, dan biru. Aku sendiri baru tahu batu merah itu dicuri.”

“Memangnya batu itu seperti apa?”

“Seperti kepala banteng, kalau tak salah. Ukurannya sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Warnanya merah bagai darah, namun kilaunya sangat menyilaukan mata. Tak salah lagi, batu itu memang punya suatu kekuatan. Wajar saja penduduk di sini marah.”

Aika mulai penasaran. Apa batu itu sangat kuat sampai-sampai dapat menyebabkan perang?

“Kenapa dicuri? Siapa yang berani mencurinya?”

Suara Aika yang pelan ternyata berhasil ditangkap oleh telinga sang manusia naga. Kaki manusia naga itu naik ke atas meja, lalu badannya dicondongkan mendekati Aika. Sangat dekat, sampai Aika langsung bergidik ngeri.

“Hiiii—!!!”

“Kau mau tahu siapa pencurinya?” Sorot mata sang manusia naga itu sangat tajam, seolah-olah dapat menusuk baju baja sekalipun.

“Siapapun itu, ia pasti berasal dari negeri Kuning. Itu pasti. Ia sangat lihai dalam bersembunyi. Cerdas namun licik. Persis penduduk negeri Kuning dan ratunya.”

Aika kecil bergemetar. Ia tersenyum kaku. “A-aa-ah, b-begitukah? B-ba-baiklah.”

“Nona kecil, anda tak apa? Apa aku membuatmu takut?” Sang manusia naga dengan lembut menepuk kepala Aika dan mengusapnya pelan. Ia bermaksud menenangkan Aika, namun tanpa sengaja…

bando kelinci yang dikenakan Aika, terdorong oleh tangannya dan jatuh ke lantai. Aika mematung.

“…Ah.”

“..TELINGANYA COPOT?!!”

Sang manusia naga melompat mundur, begitu juga penduduk Redland lainnya. Mereka menatap Aika dan si penggembala dengan curiga.

“SIAPA KAU?! PENYUSUP?!!”

 

“..Ah, ini tidak bagus,” komentar sang penggembala.

“B-B-Bagaimana ini..?”

[To Be Continued]

[Chapter 03 : Menuju Redland]

 

story 3 fix.jpg

“Baiklah, jadi… intinya kamu adalah manusia atau apalah itu yang tiba-tiba jatuh dari langit? Kau jatuh dan mendarat di atas salah satu ternakku, lalu mendarat di sini tanpa tahu apapun, benar?”

Alis sang penggembala bertaut. Sudah 15 menit Aika menceritakan asal-usulnya secara panjang lebar pada sang pemuda bermata heterokromik itu. Dari penjelasan soal manusia yang merupakan spesiesnya hingga bumi dan desa tempat tinggalnya. Tapi semakin banyak penjelasan yang ia berikan pada penggembala, semakin terlihat bingunglah si penggembala.

“Aduuuh, kenapa kau susah mengerti?!” Aika berseru. Kalau wajah Aika saat itu adalah emotikon, wajahnya terlihat seperti (>A<). Ia kesal dan gemas, habis akal.

“Intinya, aku bukan berasal dari sini. Aku harus pulang..” Wajah Aika seketika terlihat memelas, menatap sang pemuda dengan penuh harap. Seketika rasa iba terlukis di wajah si penggembala.

“B-baiklah, jangan melihatku seperti itu. Aku tetap tak tahu harus apa…… ah.”

Di tengah kebingungan mereka, sebuah ide terbesit dalam kepala si penggembala, seperti cahaya di dalam gelap.

“Mungkin orang-orang di Redland tahu sesuatu. Mereka terkenal suka mengembara. Mau coba bertanya ke sana?”

Perkataan sang penggembala membuat Aika mengedipkan matanya polos, seolah berpikir dalam diam sejenak. “Tapi aku tak melihat ada orang sejauh mata memandang… Apa tempat itu jauh?”

“Kita bisa naik dombfly, dan waktu perjalanannya mungkin satu jam. Tapi begitu sampai, kita harus jalan kaki sih.”

‘……………Dombfly itu.. domba terbang? Kok namanya maksa ya…’ batin Aika.

“Tak apa nih? Aku tak ingin merepotkanmu juga..”

Sang penggembala mengedikkan bahunya.

“Tak masalah. Kebetulan aku ingin mencari makanan ternak di sana, jadi sekali dayung dua pulau terlewati. Tapi,” si penggembala diam sejenak dan melihat penampilan Aika dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau harus menyamar. Kabarnya, orang-orang Merah suka berprasangka belakangan ini. Yah, mungkin efek perpecahan yang terjadi. Kau bisa dikira orang dari wilayah Biru atau Kuning.”

“B-begitukah?” Mata Aika memperhatikan pakaiannya sendiri, lalu menatap kembali sang pemuda. “L-lalu aku harus apa?”

Pemuda itu mengetuk dagunya sendiri, berpikir. “Hmmm…..”

 

“Ah, aku tahu.”

==============

Sekitar satu setengah jam sudah berlalu sejak Aika dan si penggembala meninggalkan ladang monokrom. Kini mereka sedang berjalan menyusuri bangunan Redland, Tanah Merah. Tempat itu memberikan kesan semangat membara. Benar-benar tempat orang kuat. Seperti namanya, nyaris setiap bagian dari tempat itu memiliki kesan merah. Mulai dari dinding dan tiang hingga tanah dan kerikilnya. Dindingnya dihiasi banyak senjata dan benda-benda yang memperlihatkan ketangguhan. Penghuni di sana pun terlihat kekar dan kuat. Jauh lebih tinggi dari Aika dan si penggembala. Aika merasa bagai semut. Beberapa di antaranya memiliki sayap bersisik dan kuku yang tajam. Ada pula yang memiliki bagian tubuh naga, singa, dan hewan bertenaga besar lainnya.

Satu hal yang janggal adalah mereka tampak kurang motivasi.

“Uhh…” Aika tampak ragu. Ia menengok ke kiri dan kanan, diikuti telinga kelinci palsu di atas kepalanya. Ekor kucingnya mengikuti setiap gerakan gadis itu. Ya, inilah penyamaran yang ia kenakan. Berkat penyamaran itu, ia bagai kelinci di tengah alam liar.

“Tempat ini agak menyeramkan ya…”

“Tenang, kau harus terlihat kuat. Itulah ciri orang-orang di sini. Jangan gemetar, dan semuanya akan baik-baik saja.”

Setelah melewati beberapa blok bangunan, Aika dan si penggembala melewati sebuah gedung yang cukup dipenuhi orang. Ada yang makan, minum, dan bertukar cerita. Tempat ramai dan sangat gaduh. Sebuah papan bertuliskan TAVERN terpampang di atas pintunya.

“Mungkin kita harus coba tanya ke sini.”

Aika sejujurnya merasa ciut, namun apa boleh buat. Keinginannya untuk pulang dan keluar dari tempat tak biasa itu lebih kuat dari ketakutannya. Akhirnya ia mengekor si penggembala dan masuk ke dalam tavern.

Satu langkah, dua langkah, dan..

BRAK!

Suara meja dipukul kuat oleh seseorang terdengar, menghentikan suara obrolan dan piring berdenting lainnya. Aika dan penggembala menoleh ke arah sumber suara. Seorang manusia bersayap naga yang awalnya sedang berbincang dengan banyak pengelana lainnya dalam satu lingkaran kini memandang mereka dari satu sisi ruangan.

“Woi, lihat, orang baru!!”

Seru manusia naga itu sambil menunjuk ke arah Aika dan penggembala. Semua mata memandang ke arah mereka pula. Tampaknya si manusia naga itu adalah pemilik bar yang sangat berkarisma. Lihat saja, orang-orang tegap lainnya ikut menyambut Aika dan penggembala, lalu menarik mereka untuk bergabung dalam lingkaran.

“Kebetulan sekali, kalian datang di saat aku baru saja akan mulai bercerita tentang petualanganku,” si manusia naga merangkul sang penggembala dan Aika dengan akrab, sebelum duduk di seberang mereka. Ya, sepertinya sosok manusia naga ini merupakan orang yang supel dan senang sekali bertemu sosok tak biasa di Redland.

“Uhh, maaf, aku…” Suara Aika makin ciut. Tentu ia merasa takut. Menyadari ketakutan Aika, sang manusia naga menawarkan segelas minuman padanya dan penggembala.

“Ah, maaf, nona. Aku tak mengira kau akan setakut itu. Aku kelewat senang bertemu orang baru,” sang manusia naga terkekeh. “Aku kenal semua orang di sini, makanya aku langsung tertarik melihat kalian yang jarang kutemui.”

“Anda sepertinya tahu banyak tentang negeri kita ini ya…” Tutur penggembala.

“Oh tentu saja! Aku adalah pemimpin Redland! Tentu aku tahu banyak. Kalau begitu, biarkan aku berbagi sebuah cerita menarik pada kalian.”

Sang manusia naga tersenyum senang. Ia meneguk minumannya sebelum mulai bercerita. Aika hanya bisa pasrah dan duduk diam untuk mendengarkan cerita sang manusia naga. Siapa tahu dia bisa dapat petunjuk pulang, bukan?

[To be continued]

 


Don’t forget to follow our other social media

Line    : @fvq3325o [use @ sign]

Twt     : @inori_nk3

Fb       : INORI – Isshoni no Monogatari

Ig        : @inori_nk3

CHARACTER PROFILE : INORI ver. 2017

Meet our main heroine, Aika Inori!!CHARSHEET INORI FINAL (JPG)

Nama : Aika Inori

Panggilan : Aika, Inori, Pendek, Loli 😦

Usia : 17 tahun

Ras : Manusia

Jenis Kelamin : Perempuan (Mau apa lagi? ≥3≤)

Asal : Desa Ronakuna
Tinggi badan : 148 cm

Berat badan : 42 kg
Seorang gadis desa yang polos, ceria, dan penuh ekspresi. Berawal dari jurnal desa yang ia baca, ia memulai petualangannya dengan menjelajahi hutan dekat desa. Di sana ia menemukan sebuah reruntuhan tua. Saat sedang asyik mengamati reruntuhan itu, ia menemukan sebuah batu bening seperti berlian yang secara ajaib membawanya ke dunia lain.
Likes :

  • Buku cerita, novel
  • PERPUUUUSS
  • Makanan manis (๑♡∀♡)
  • Menjelajah tempat baru!

Dislikes :

  • Pertengkaran, bully, dan orang jahat lainnya
  • Buku basah….
  • Diejek pendek. ヽ(`Д´)ノ
  • Tempat ribut

Trivia :

  • Orang tuanya bekerja sebagai sastrawan, tak heran di rumahnya banyak buku.
  • Seringkali ia disangka anak kecil.

“Bukan pendek, cuma kurang tinggi. Kalau tinggi banget mah namanya titan.”

ヽ(`Д´)ノ

— Aika Inori, 2017


Don’t forget to follow our other social media

Line : @fvq3325o [use @ sign]

Twt : @inori_nk3

Fb : INORI – Isshoni no Monogatari

Ig : @inori_nk3

 

[Chapter 02 : Dunia Monokromatik]

“KYAAAAAAaaaaaa!!”

Gadis pirang itu jatuh bebas di udara. Ia merasa sudah jatuh ke dalam lubang yang sangat, sangat dalam. Dasar lubang itu belum terlihat sejak satu menit lalu. Ia jatuh bagai penerjun bebas, dengan kepala lebih rendah dari kaki. Sayangnya ia tak bawa parasut. Tentu akan sakit kalau nantinya ia mendarat di dasar ‘lubang’ dengan kecepatan tinggi begitu.

Dan tampaknya sebentar lagi ia akan merasakannya.

Ia bergerak tepat ke arah sebuah gumpalan putih yang tebal 10 meter dibawahnya. Sepuluh meter itu dapat ditempuh dengan singkat kalau sedang jatuh bebas, kan? Apa sebenarnya gumpalan putih itu, sang gadis tak tahu pasti. Hanya satu kalimat yang masuk ke pikirannya.

Ah, tamatlah riwayatku.

 

5 meter…

 

3 meter…

 

75 senti…

 

BLUGH!
“MBEEEEEK!!”

Bukannya rasa sakit, suara itulah yang pertama ia terima dengan indranya. Sama sekali tak ada rasa sakit. Malah rasanya ia telah jatuh di atas tumpukan kapas yang besar, tebal, dan lembut.

..Hah? ‘Mbeek’?

Ia perlahan bergerak terus ke bawah bersama tumpukan kapas tadi dan akhirnya mendarat dengan selamat di tempat yang tampaknya merupakan dasar dari ‘lubang’ itu. Kapas itu tergoncang sehingga sang gadis sedikit terjungkal ke tanah dan terduduk. Tumpukan kapas yang sekarang ada di hadapannya bergerak memutar. Sang gadis terbelalak menyadari bentuk sebenarnya dari ‘kapas’ itu.

“Mbeek!”
“D-Domba?”

Ya, itu adalah domba. Ia barusan jatuh di atas domba yang gemuk, lembut, dan empuk. Domba itu melihat ke arahnya, lalu melayang menjauhinya.

Tunggu, melayang?

“..Hah?”

Ia menggosok kedua matanya. Domba itu benar-benar melayang. Dan tak hanya satu. Ia melihat puluhan domba terbang menghiasi langit biru di atasnya. Ada yang melayang terbalik, berlari, bahkan tertidur atau memakan dedaunan di atas pohon tinggi.

Sang gadis menyadari dirinya sekarang ada di ladang rumput yang luas dan sepi, terduduk di atas rumput yang dingin. Sejauh mata memandang, ia hanya melihat domba terbang, pepohonan, rerumputan, dan sebuah bangunan kecil berbentuk teko teh. Dilihat dengan lebih cermat, ia menyadari satu keanehan dari tempat itu.

Warna tumbuhan, domba, hingga rumah teko itu hanya seputar nuansa hitam, putih, dan tone atau kelabu.

“Hei, kamu tidak apa?”

Di tengah kebingungannya, sebuah suara memanggilnya. Sang gadis spontan berpaling ke sumber suara. Kedua matanya mendapati sosok seorang lelaki berdiri satu meter di hadapannya. Lelaki itu membawa tongkat kayu yang panjang dan terlihat kuat. Bajunya memiliki model sederhana dan terbuat dari kulit, serasi dengan topi yang ia kenakan. Iris pemuda itu memiliki warna yang berbeda, dan kini sedang tertuju padanya.

“Di mana aku?”

Sang gadis bertanya pada orang asing di hadapannya.

“Err, kau ada di Swapandara.”

“Suapan Dara?”

Sang gadis memasang tampang dungu, sangat kebingungan. Tapi si lawan bicara pun memasang wajah tak kalah bingung.

“Swapandara.”

“Tempat apaan tuh?”

Pemuda itu menatap si gadis lebih dekat dan berlutut di hadapannya. Ekspresi bingung seketika lenyap darinya.

“Oh, pantas. Kau pasti menderita semacam amnesia atau apalah itu karena perang. Warna matamu keduanya sama. Tandanya memang ada yang salah dengan memorimu.”

“Amnesia? Perang? Apa maksudmu? Jelaskan padaku!”

Sang gadis agak merengek. Pikirannya makin kusut bagai cucian kering yang belum disetrika.

“Baiklah, akan kuceritakan. Siapa tahu kau akan sembuh setelahnya,” kata sang pemuda. Ia berdeham.

“Ini adalah Swapandara, negeri tempat semua keajaiban dan mimpi dari seluruh dimensi berada. Swapan itu mimpi, dara itu tanah. Negeri ini dulu damai dan tentram. Semua makhluk dan ras hidup senang. Tapi sekarang… terjadi sesuatu yang menyebabkan negeri ini terpecah-belah menjadi tiga kekuasaan. Ada Merah di Barat, Kuning di Timur, dan Biru di Selatan. Sedang terjadi perang besar-besaran. Karena itu juga teman-temanku berpencar, meninggalkanku sendiri di Ladang Monokrom ini. Sendirian sih, tapi aku senang bisa hidup damai di sini. Untungnya tempat ini jauh dari ketiga wilayah itu. Damai, deh.”

Sang gadis terdiam mendengar cerita sang pemuda. Rasanya Perang Dunia ke-berapapun-itu sudah lama berakhir.

‘Apa ini artinya.. aku ada di dunia lain?’ Pikir sang gadis, imajinasinya meluas.

“Nah, apa kau ingat sesuatu? Siapa namamu? Rasmu monorist sepertiku kan?” Sang pemuda melontarkan pertanyaan dengan lembut.

Monorist? Apa itu?” Sang gadis mengerutkan dahinya. “Namaku Aika Inori, dan aku manusia!”

“….Manusia?” Sang penggembala memiringkan kepalanya, bingung.

 

“Apa itu manusia?”

[To be continued]

story 2 fix.jpg


CHECK IT OUT!

Line : @fvq33250 [use @ sign]

Twt : @inori_nk3

Fb : INORI – Isshoni no Monogatari

Ig : @inori_nk3

[Chapter 01 : Petualangan Dimulai!]

“Selamat siang, matahari!”

Sapa sang gadis berambut pirang pada mentari yang bersinar di atas kepalanya, ditemani beberapa lapis awan tipis yang membawa suasana teduh di hari yang cerah itu. Dengan langkah kecilnya yang cepat, ia berlari keluar desa menuju utara, melewati padang rumput berbunga yang luas. Tak sampai sepuluh menit berlari, ia akhirnya tiba di tepi hutan yang lebat dan dalam.

Siang bolong begini ke hutan? Mengenakan rok dan membawa tas kecil nan mungil? Untuk apa?

Entah, mungkin dia kurang kerjaan? Padahal sesepuh desa sudah sering mengingatkan akan bahaya di dalam hutan itu. Tanaman beracun, serigala, hingga beruang besar katanya hidup di sana.

Katanya

Maklum lah, si gadis ini tak puas dengan kata katanya. Dengan sengaja ia melanggar larangan tersebut dan pergi menjelajahi hutan. Nyatanya, sekarang ia tahu semua keburukan yang disampaikan orang-orang dewasa tentang hutan itu tidak benar.

Kini ia sudah masuk ke bagian dalam hutan—reruntuhan sebuah kota ada di sana. Kini yang tersisa hanya bangkai bangunannya yang sudah hancur dan berlumut.

“Whoa… Persis seperti yang ditulis di jurnal tua itu!”

Sang gadis berkata pada dirinya sendiri sambil memegang erat tasnya. Jurnal tua? Yah, sebelum ini, dia sempat menyelinap masuk ke kantor kepala desa dan melihat-lihat jurnal tentang lingkungan sekitar desa. Anak nakal, memang.

Sambil mengatur napasnya yang berantakan karena berlari, ia melihat-lihat keadaan reruntuhan di bawah pepohonan rimba itu. Yang ada di sana kini hanya rangka sebuah kastil sederhana. Ukurannya kecil jika dibandingkan dengan kastil di cerita dongeng biasanya. Mungkin dulu ada semacam kerajaan kecil di sini, pikir si gadis. Dindingnya yang tersusun dari balok-balok batu besar kini hanya bersisa paling tinggi lima meter dari tanah. Bekas-bekas ruangan kastil pun masih tertanam di tanah.

Tangan sang gadis menyisir lembut bagian dinding kasir yang tertutup lumut. Benar-benar sudah tua.

“Mungkin sebaiknya aku mencatat ini,” gumamnya sambil merogoh tas untuk mengambil buku kecilnya—buku diary, bisa dibilang.

Di saat ia sibuk mencari pensil yang terkubur dalam tas, jemari kakinya merasakan sesuatu terinjak olehnya. Sesuatu yang keras dengan ukuran sedikit lebih besar dari ibu jarinya. Ketika ia menunduk untuk melihat benda apa itu, ia menemukan sebuah batu bening yang berkilau.

“Oh, apa ini? Menarik!”

Dengan dua jarinya yang lentik, ia angkat batu itu tinggi. Sinar matahari terlihat menembus batu itu. Berlian kah? Intan kah? Yang pasti, batu kecil itu begitu indah hingga memikat sang gadis dengan kilauannya.

“Akan kutunjukkan pa—“

Tiba-tiba saja kilauan dari batu itu semakin besar. Semakin silau hingga ia tak dapat melihat apa-apa.

“L-loh ini ap—aaaa?!”

Tanah di bawah kakinya mendadak hilang. Ia merasakan dirinya jatuh ke dalam sebuah lubang dan terhisap masuk. Area sekitarnya berubah secara aneh dan misterius. Apa yang sebenarnya terjadi?!

 

Story-1-fix.jpg