[Chapter 03 : Menuju Redland]

 

story 3 fix.jpg

“Baiklah, jadi… intinya kamu adalah manusia atau apalah itu yang tiba-tiba jatuh dari langit? Kau jatuh dan mendarat di atas salah satu ternakku, lalu mendarat di sini tanpa tahu apapun, benar?”

Alis sang penggembala bertaut. Sudah 15 menit Aika menceritakan asal-usulnya secara panjang lebar pada sang pemuda bermata heterokromik itu. Dari penjelasan soal manusia yang merupakan spesiesnya hingga bumi dan desa tempat tinggalnya. Tapi semakin banyak penjelasan yang ia berikan pada penggembala, semakin terlihat bingunglah si penggembala.

“Aduuuh, kenapa kau susah mengerti?!” Aika berseru. Kalau wajah Aika saat itu adalah emotikon, wajahnya terlihat seperti (>A<). Ia kesal dan gemas, habis akal.

“Intinya, aku bukan berasal dari sini. Aku harus pulang..” Wajah Aika seketika terlihat memelas, menatap sang pemuda dengan penuh harap. Seketika rasa iba terlukis di wajah si penggembala.

“B-baiklah, jangan melihatku seperti itu. Aku tetap tak tahu harus apa…… ah.”

Di tengah kebingungan mereka, sebuah ide terbesit dalam kepala si penggembala, seperti cahaya di dalam gelap.

“Mungkin orang-orang di Redland tahu sesuatu. Mereka terkenal suka mengembara. Mau coba bertanya ke sana?”

Perkataan sang penggembala membuat Aika mengedipkan matanya polos, seolah berpikir dalam diam sejenak. “Tapi aku tak melihat ada orang sejauh mata memandang… Apa tempat itu jauh?”

“Kita bisa naik dombfly, dan waktu perjalanannya mungkin satu jam. Tapi begitu sampai, kita harus jalan kaki sih.”

‘……………Dombfly itu.. domba terbang? Kok namanya maksa ya…’ batin Aika.

“Tak apa nih? Aku tak ingin merepotkanmu juga..”

Sang penggembala mengedikkan bahunya.

“Tak masalah. Kebetulan aku ingin mencari makanan ternak di sana, jadi sekali dayung dua pulau terlewati. Tapi,” si penggembala diam sejenak dan melihat penampilan Aika dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau harus menyamar. Kabarnya, orang-orang Merah suka berprasangka belakangan ini. Yah, mungkin efek perpecahan yang terjadi. Kau bisa dikira orang dari wilayah Biru atau Kuning.”

“B-begitukah?” Mata Aika memperhatikan pakaiannya sendiri, lalu menatap kembali sang pemuda. “L-lalu aku harus apa?”

Pemuda itu mengetuk dagunya sendiri, berpikir. “Hmmm…..”

 

“Ah, aku tahu.”

==============

Sekitar satu setengah jam sudah berlalu sejak Aika dan si penggembala meninggalkan ladang monokrom. Kini mereka sedang berjalan menyusuri bangunan Redland, Tanah Merah. Tempat itu memberikan kesan semangat membara. Benar-benar tempat orang kuat. Seperti namanya, nyaris setiap bagian dari tempat itu memiliki kesan merah. Mulai dari dinding dan tiang hingga tanah dan kerikilnya. Dindingnya dihiasi banyak senjata dan benda-benda yang memperlihatkan ketangguhan. Penghuni di sana pun terlihat kekar dan kuat. Jauh lebih tinggi dari Aika dan si penggembala. Aika merasa bagai semut. Beberapa di antaranya memiliki sayap bersisik dan kuku yang tajam. Ada pula yang memiliki bagian tubuh naga, singa, dan hewan bertenaga besar lainnya.

Satu hal yang janggal adalah mereka tampak kurang motivasi.

“Uhh…” Aika tampak ragu. Ia menengok ke kiri dan kanan, diikuti telinga kelinci palsu di atas kepalanya. Ekor kucingnya mengikuti setiap gerakan gadis itu. Ya, inilah penyamaran yang ia kenakan. Berkat penyamaran itu, ia bagai kelinci di tengah alam liar.

“Tempat ini agak menyeramkan ya…”

“Tenang, kau harus terlihat kuat. Itulah ciri orang-orang di sini. Jangan gemetar, dan semuanya akan baik-baik saja.”

Setelah melewati beberapa blok bangunan, Aika dan si penggembala melewati sebuah gedung yang cukup dipenuhi orang. Ada yang makan, minum, dan bertukar cerita. Tempat ramai dan sangat gaduh. Sebuah papan bertuliskan TAVERN terpampang di atas pintunya.

“Mungkin kita harus coba tanya ke sini.”

Aika sejujurnya merasa ciut, namun apa boleh buat. Keinginannya untuk pulang dan keluar dari tempat tak biasa itu lebih kuat dari ketakutannya. Akhirnya ia mengekor si penggembala dan masuk ke dalam tavern.

Satu langkah, dua langkah, dan..

BRAK!

Suara meja dipukul kuat oleh seseorang terdengar, menghentikan suara obrolan dan piring berdenting lainnya. Aika dan penggembala menoleh ke arah sumber suara. Seorang manusia bersayap naga yang awalnya sedang berbincang dengan banyak pengelana lainnya dalam satu lingkaran kini memandang mereka dari satu sisi ruangan.

“Woi, lihat, orang baru!!”

Seru manusia naga itu sambil menunjuk ke arah Aika dan penggembala. Semua mata memandang ke arah mereka pula. Tampaknya si manusia naga itu adalah pemilik bar yang sangat berkarisma. Lihat saja, orang-orang tegap lainnya ikut menyambut Aika dan penggembala, lalu menarik mereka untuk bergabung dalam lingkaran.

“Kebetulan sekali, kalian datang di saat aku baru saja akan mulai bercerita tentang petualanganku,” si manusia naga merangkul sang penggembala dan Aika dengan akrab, sebelum duduk di seberang mereka. Ya, sepertinya sosok manusia naga ini merupakan orang yang supel dan senang sekali bertemu sosok tak biasa di Redland.

“Uhh, maaf, aku…” Suara Aika makin ciut. Tentu ia merasa takut. Menyadari ketakutan Aika, sang manusia naga menawarkan segelas minuman padanya dan penggembala.

“Ah, maaf, nona. Aku tak mengira kau akan setakut itu. Aku kelewat senang bertemu orang baru,” sang manusia naga terkekeh. “Aku kenal semua orang di sini, makanya aku langsung tertarik melihat kalian yang jarang kutemui.”

“Anda sepertinya tahu banyak tentang negeri kita ini ya…” Tutur penggembala.

“Oh tentu saja! Aku adalah pemimpin Redland! Tentu aku tahu banyak. Kalau begitu, biarkan aku berbagi sebuah cerita menarik pada kalian.”

Sang manusia naga tersenyum senang. Ia meneguk minumannya sebelum mulai bercerita. Aika hanya bisa pasrah dan duduk diam untuk mendengarkan cerita sang manusia naga. Siapa tahu dia bisa dapat petunjuk pulang, bukan?

[To be continued]

 


Don’t forget to follow our other social media

Line    : @fvq3325o [use @ sign]

Twt     : @inori_nk3

Fb       : INORI – Isshoni no Monogatari

Ig        : @inori_nk3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s