[Chapter 04 : Kisah Sang Manusia Naga]

story4

“Kalau begitu, biarkan aku berbagi sebuah cerita menarik pada kalian.”

Dengan senyum lebar, sang manusia naga duduk menghadap Aika dan sang penggembala. Terlihat sekali bagaimana ia sangat ingin menyampaikan kisahnya pada dua figur asing di hadapannya. Ditemani beberapa gelas sirup dari Tavern dan beberapa petualang serta ksatria berbaju besi lainnya, ia memulai kisahnya dengan beberapa senda gurau yang tak dapat dimengerti Aika. Yah, secara, Aika tak berasal dari dunia itu. Tentu wajar jika ia tak tahu. Ia mencondongkan dirinya mendekati sang penggembala, berbisik padanya.

“Apa tak apa kita mendengarkan kisahnya dulu?”

“Mau apa lagi, kita tak tahu harus apa sekarang, kan? Aku sama sekali tak tahu soal dirimu. Ia mungkin tahu sesuatu tentang rasmu yang disebut manu.. ah, apapun itu,” balas sang penggembala dengan suara kecil pula.

“Swapandara, negeri yang penuh akan keajaiban. Berbagai warna, sihir, dan mimpi di seluruh dimensi berkumpul di negeri kita tercinta ini, bukan begitu?”

Sang manusia naga bercerita dengan cara yang interaktif; Ia memandang wajah orang-orang yang mendengar kisahnya satu-persatu, termasuk wajah Aika.

“Tentu kalian tahu soal negeri kita itu. Dan tentu, kalian tahu soal wilayah kita ini. Redland, yang dikenal sebagai tanah orang-orang tangguh seperti kalian dan aku. Redland yang pemberani. Redland tempat kita saling berbagi cerita hasil petualangan kita di berbagai penjuru Swapandara. Redland yang dijuluki wilayah saos tomat.”

“..Saos tomat?” Aika bergumam. Kedua alisnya bertaut heran. Apa itu sekedar kiasan karena wilayah itu memang merah semua atau sang manusia naga yang gagah perkasa namun berwibawa di hadapannya itu tak main-main mengatakannya?

“Redland memang dikenal dengan saos tomatnya yang enak dan mengandung banyak gizi. Kau tak tahu soal itu?” Sang penggembala berbisik pada Aika setelah mendengar gumamannya itu. Tentu tak mustahil perkataan Aika yang lirih terdengar oleh sang penggembala, mengingat mereka duduk sebelahan. “Malah, ada desas-desus kalau saos tomat itu dapat memberimu kekuatan kuda.

“Ah, begitu ya,” respon Aika singkat. Entah kenapa ia ingin terkekeh geli mendengar itu. Tempat ini sungguh aneh. Tapi tentu tak sopan jika ia tertawa tanpa sebab jelas di hadapan orang yang sedang berbicara.

Suara sang manusia naga kembali menjadi fokus utamanya. Wajah sang manusia bersisik itu tampak tenang namun tegas.

“Dahulu kita hidup berdampingan bersama kedua wilayah besar lainnya. Untuk beberapa alasan, aku tak begitu ingin menyebut nama tempat yang kumaksud,” ia berhenti sejenak, mengernyitkan dahinya. “Mereka dan kita memang beda paham dalam urusan kepercayaan. Karena itulah aku, pemimpin Redland, bersama kedua pemimpin wilayah lainnya sepakat untuk tidak saling berseteru soal hal itu. Tentu kalian juga tahu soal hasil perjanjiannya. Kita semua sepakat untuk tidak saling melukai satu sama lain karena bedanya paham itu, tapi…”

Sang manusia naga meletakkan gelas minumannya di atas meja kayu itu perlahan. Air mukanya terlihat lebih serius. Atau mungkin geram? Orang-orang pun taka da yang berani berkomentar.

“Perjanjian dilanggar. Seseorang mencuri batu mulia kita. Simbol kekuasaan kita. Ketika aku mencoba melihat keadaan batu mulia di kediamanku, ia telah lenyap. Seseorang merampasnya dari kita. Tanpa batu itu, semangat kita tiada. Sumber utama tenaga kita pun tak bisa diproduksi,” ujar sang manusia naga, sedih bercampur kesal.

Orang-orang sekitar Aika mulai berbisik-bisik. Mereka juga tampak memiliki kebencian yang sama seperti pemimpin mereka.

“Lalu mereka datang! Pasukan negara kuning! Pengkhianat perjanjian! Mereka menyerang persediaan tomat, makanan, dan persenjataan. Dengan sigap aku mencabut pedang, menantang utusan ratu mereka yang jahat itu!”

Sang manusia naga memeragakan gerakannya di hadapan orang-orang. Sementara itu, Aika kembali berbisik pada sang penggembala.

“Batu mulia? Maksudnya emas?”

“Emas? Astaga… Emas itu kan batu yang murah..”

“……………Murah?” Bukankah emas itu mahal, pikir Aika.

“Sepertinya kau memang amnesia ya.. Di Swapandara, ada tiga batu yang masing-masing mewakili warna utama. Ada merah, kuning, dan biru. Aku sendiri baru tahu batu merah itu dicuri.”

“Memangnya batu itu seperti apa?”

“Seperti kepala banteng, kalau tak salah. Ukurannya sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Warnanya merah bagai darah, namun kilaunya sangat menyilaukan mata. Tak salah lagi, batu itu memang punya suatu kekuatan. Wajar saja penduduk di sini marah.”

Aika mulai penasaran. Apa batu itu sangat kuat sampai-sampai dapat menyebabkan perang?

“Kenapa dicuri? Siapa yang berani mencurinya?”

Suara Aika yang pelan ternyata berhasil ditangkap oleh telinga sang manusia naga. Kaki manusia naga itu naik ke atas meja, lalu badannya dicondongkan mendekati Aika. Sangat dekat, sampai Aika langsung bergidik ngeri.

“Hiiii—!!!”

“Kau mau tahu siapa pencurinya?” Sorot mata sang manusia naga itu sangat tajam, seolah-olah dapat menusuk baju baja sekalipun.

“Siapapun itu, ia pasti berasal dari negeri Kuning. Itu pasti. Ia sangat lihai dalam bersembunyi. Cerdas namun licik. Persis penduduk negeri Kuning dan ratunya.”

Aika kecil bergemetar. Ia tersenyum kaku. “A-aa-ah, b-begitukah? B-ba-baiklah.”

“Nona kecil, anda tak apa? Apa aku membuatmu takut?” Sang manusia naga dengan lembut menepuk kepala Aika dan mengusapnya pelan. Ia bermaksud menenangkan Aika, namun tanpa sengaja…

bando kelinci yang dikenakan Aika, terdorong oleh tangannya dan jatuh ke lantai. Aika mematung.

“…Ah.”

“..TELINGANYA COPOT?!!”

Sang manusia naga melompat mundur, begitu juga penduduk Redland lainnya. Mereka menatap Aika dan si penggembala dengan curiga.

“SIAPA KAU?! PENYUSUP?!!”

 

“..Ah, ini tidak bagus,” komentar sang penggembala.

“B-B-Bagaimana ini..?”

[To Be Continued]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s