[Chapter 05 : Kerajaan Di Dekat Mentari]

 

STORY5colored

Pedang sang pemimpin Redland teracung ke arah Aika dari jarak yang cukup dekat. Sorot matanya menajam kala menatap si gadis dan penggembala domba yang berdiri di sampingnya. Seluruh mata di dalam Tavern tertuju pada ketiga sosok utama itu, memandang mereka dengan rasa takut menghiasi tiap wajah.

“Siapa kalian sebenarnya? Jawab aku!” Titah Sir Loyd dengan nada yang tegas dan lantang, masih sambil mengangkat pedangnya yang tajam.

“A-a-aku.. Aku..” Aika bergetar hebat, merasakan rasa takutnya kian memuncak. Tangannya perlahan meraih ujung lengan baju si penggembala, menarik-nariknya pelan seolah meminta bantuan. Tapi apa daya, sosok yang ia mintai itu juga mematung di tempat. Ekspresinya terlihat dilanda rasa bingung, tak tahu jawaban apa yang harus diberikan.

Tak kunjung dijawab, Sir Loyd mulai kehilangan kesabarannya. Salah satu kakinya mengambil satu langkah ke depan dan dihentakannya kuat-kuat terhadap lantai kayu itu, menimbulkan suara yang cukup keras.

“JAWAB AKU! CEPAT!”

BRAK!

Di tengah suasana yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu Tavern yang didobrak. Pasukan bersenjata panah dan tombak dengan pakaian serba kuning dan sayap perkasa bagai rajawali berbondong-bondong memasuki bangunan tersebut. Pasukan tersebut terlihat seperti manusia burung dalam baju besi. Keributan pun semakin menjadi setelahnya.

“KITA TELAH DISERANG!! KITA TELAH DISERANG!!” Seru seorang werebeast merah dari luar Tavern.

Para ksatria merah dengan sigap mencabut pedang dan kapak mereka, kemudian menerjang ke arah pasukan berwarna terang itu. Trang! Trang! Trang! Adu senjata tajam pun dimulai. Begitu juga Sir Loyd. Badan manusia naga itu langsung berbalik untuk berhadapan dengan salah satu prajurit elang yang mengayunkan pedangnya.

“Sial,” celetuk sang manusia naga.

Sementara itu, rakyat yang tak memegang apapun untuk pertahanan diri langsung berhamburan dari tempat tersebut, mencari perlindungan.

“Aika?!” Sang penggembala sibuk mencari si gadis kecil. Aika langsung menoleh, secepat mungkin berlari ke arah suber suara. Namun, sesuatu mencengkram lengannya dan menariknya. Sesuatu itu tak lain adalah tangan seorang prajurit kuning.

“Lepaskan aku!” Aika berteriak, namun tak didengar oleh yang menarik. Dalam hitungan detik, Aika ditarik keluar oleh prajurit bersayap itu dan dibawa terbang olehnya. Begitu juga beberapa penduduk Redland lainnya.

“Toloooooong!!!”

Fokus Sir Loyd sempat terganggu saat menyadari rakyatnya satu per satu tertangkap di tengah serangan mendadak itu. Panik, ia berusaha terbang keluar untuk merebut kembali apa yang diambil dari negerinya. Tapi apa daya, kemampuan terbangnya sudah lama hilang sejak batu merah dicuri. Bukan itu saja, jumlah pasukan kuning yang datang menyerang Tavern itu sangat banyak. Mereka berhasil membekukan gerakan Sir Loyd, dan akhirnya terbang meninggalkan Redland menuju langit biru yang luas.

Beberapa menit kemudian, jauh di langit, Aika hanya bisa pasrah dan berharap dirinya takkan dijatuhkan. Jauh di bawah kakinya yang melayang, terlihat daratan merah dan kelabu yang sedikit demi sedikit tertutup oleh awan. Entah apa yang akan terjadi jika mendadak dirinya dilepaskan oleh pasukan manusia burung itu. Besar kemungkinan ia akan kehilangan nyawa secara instan.

‘Ke mana mereka akan membawaku?’ Batin Aika bertanya. Begitu memandang jauh ke depan, ia melihat sesuatu yang tampaknya dapat menjawab pertanyaannya secara… aneh.

Pulau-pulau dengan berbagai bangunan kuno kini ada di hadapannya. Besar, megah, dan… melayang melawan gravitasi. Di balik pulau itu, matahari memancarkan sinar kuningnya yang terang namun tak menyilaukan. Pemandangan yang cukup indah, namun terasa tidak nyata. Di antara pulau-pulau tersebut, tampak sebuah pulau yang jauh lebih luas dari yang lain. Di sana, berdiri kokoh sebuah kastil yang agak kusam.

Tempat apa itu?

Manusia-manusia burung itu perlahan turun mendekati sebuah bangunan kecil dekat kastil yang dijaga beberapa elf. Dengan sigap mereka mendarat dan langsung berjalan ke dalam bangunan tersebut, membawa sanderanya menuruni tangga yang ada dalam bangunan kecil itu. Dilihat dari jeruji yang digunakan untuk menutup bangunan, tampaknya tangga itu mengarah ke rumah tahanan di pulau.

Sebelum memasuki bangunan, satu persatu sandera diperiksa oleh elf. Dari tanduk, sisik, wajah, hingga kaki dan ekor para penduduk Redland. Ketika salah satu elf memperhatikan Aika, ia mengernyit. Aika memandangnya balik dengan tatapan takut, berharap ia takkan diapa-apakan.

“Berhenti!” Titahnya pada prajurit yang membawa Aika. Elf tersebut kemudian menunduk untuk menyamakan tinggi kepalanya dengan kepala Aika. Elf tersebut terlihat seperti seorang pendekar wanita dengan rambut perak dan pakaian serba hijau berbahan kulit. Di pinggangnya terdapat sabuk tempatnya menyimpan belati. Ia benar-benar terlihat seperti peri hutan dalam kisah fantasi. Kedua mata jingganya menatap dalam mata Aika.

“Makhluk apa kau? Tak ada tanduk, ekor, ataupun sisik.”

“A-Aku m-manusia..”

“Manusia? Apa itu?”

“Ma-“

Belum sempat ia berbicara, elf dengan rambut perak terkuncir berjalan mendekat. Maniknya berwarna keemasan. Bajunya bernuansa kuning dan hijau, dengan celana coklat dan sepatu long boots berwarna hijau pula.

“Bawa dia ke hadapan sang Ratu. Sang Ratu juga punya pertanyaan yang sama,” potongnya dengan dingin dan tegas. Ia menatap tajam Aika sebelum berbalik dan berjalan pergi. Prajurit yang menahan Aika pun berjalan mengekori elf tersebut ke arah singgasana sang ratu.

Jantung Aika berdetak sangat cepat. Ia harus menghadapi sang ratu tanah itu? Apa yang harus dia lakukan? Otaknya seakan berputar menyusun rencana.

Sesampainya di hadapan sang ratu, Aika berhenti. Sang ratu di hadapannya memiliki rambut perak panjang yang tergerai rapi. Parasnya yang lemah lembut dihiasi manik keemasan yang kini tertuju pada Aika. Tanpa turun dari singgasananya, sang ratu bertanya.

“Makhluk apa kau ini, wahai yang tak bertanduk?”

[To Be Continued]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s