[Chapter 06 : Kisah dari Yellow Temple ]

130226“Makhluk apa kau ini, wahai yang tak bertanduk?”

Sang Ratu dengan lembut melontarkan pertanyaannya pada Aika yang berlutut di hadapannya. Tak ada kesan memaksa. Meski tak tersenyum, sang Ratu peri itu memberikan kesan ramah bagi siapapun yang melihat sosoknya. Dari penampilannya pun, jelaslah ia keturunan seorang ningrat.

“N-Namaku Aika, Y-Yang Mulia. A-Aku adalah manusia.. A-Aku tak berasal dari sini,” jawab Aika, masih gemetar. Sempat ia meneguk ludah sebelum mencoba membuka mulutnya lagi, tapi berkat seorang elf di belakang sang Ratu, niatnya terpotong.

“Apa hubunganmu dengan penduduk Redland? Kau pasti ada kaitannya dengan mereka, bukan?!”

Ketika elf tersebut mulai menaikkan suaranya, sang Ratu mengangkat tangannya sebagai isyarat. “Tenang, wahai penasihat. Jangan berprasangka dulu. Lihatlah ia. Apakah ia terlihat seperti sedang berbohong? Kau malah membuatnya takut.”

“Maafkan aku, Permaisuri,” elf wanita tersebut agak menunduk setelah mendapat teguran langsung dari sang Ratu. “Saya hanya tak dapat mempercayainya.”

“Tenangkan dirimu dulu. Secara pribadi, aku merasa ia makhluk yang dapat dipercaya,” sang Ratu melanjutkan. Kedua manik emasnya kemudian tertuju pada Aika. Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Melihat itu, Aika merasa lebih lega. Gemetarnya perlahan hilang. Syukurlah, sang Ratu tak melihatnya sebagai ancaman,

“Lepaskan ikatan tangannya, wahai prajurit. Aku ingin berbicara secara pribadi dengannya.” Sang Ratu peri kemudian bangkit dari singgasananya. Ia berjalan mendekati Aika dan mengulurkan tangannya. Begitu ikatan yang menahan kedua pergelangan Aika terlepas, Aika meraih tangan sang Ratu dan berdiri. Aika pun tersenyum canggung. Ah, sang Ratu benar-benar terlihat sebagai orang terhormat. Apalagi dari jarak dekat.

“Namamu Aika, ya? Kemarilah, mari kita berbincang dengan damai. Aku tak suka kekerasan.”

Sang Ratu kemudian mengajak Aika berjalan menyusuri karpet kuning yang terbentang panjang menuju balkon istana. Sambil berjalan, Aika melihat sekeliling. Istana tersebut sama sekali tidak tertutup seperti istana berdinding bata. Angin dapat dengan mudahnya masuk dan keluar area itu. Tak hanya itu, pemandangan langit biru cerah dihiasi berbagai ukuran pulau terbang lainnya terlihat sejauh mata memandang. Pulau-pulau tersebut ditumbuhi oleh berbagai macam pepohonan. Uniknya, Aika menyadari bahwa pepohonan di sana menghasilkan buah yang aneh, yakni sabun dan peralatan kebersihan. Baiklah, itu benar-benar aneh. Pohon apa yang dapat menumbuhkan sabun batangan dan sikat gigi? Di bumi sama sekali tak ada.

Kemudian, ia sama sekali tak melihat adanya bangunan seperti rumah. Kemungkinan besar, istana besar itulah rumah bagi seluruh penghuni pulau yang terdiri atas peri-peri, manusia burung, dan makhluk mistis yang lembut dan cerdas lainnya. Benar-benar bagai sihir. Hanya saja.. Tempat itu terlihat agak kotor.

Sesampainya di balkon, kedua mata Aika membulat. Pemandangan indah tersuguh di hadapannya. Mentari di cakrawala mewarnai langit dengan cerah. Berbagai ukuran peri sedang asyik bersenda gurau, memainkan sihir dan melakukan berbagai macam hal lainnya.

“Selamat datang di Yellow Temple, rumah kami.” Sang Ratu yang menyadari Aika sedang menikmati pemandangan itu menyambutnya ulang.

“T-Terima kasih, Yang Mulia. Tempat ini menakjubkan,” respon Aika sambil tersenyum. Ia masih takjub melihat dunia di atas awan itu.

Tapi perlahan senyumnya hilang, mengingat perkataan Sir Loyd di Tavern. Bukankah menurut Sir Loyd tempat ini tempat makhluk-makhluk licik?

“Tapi jika boleh tahu, mengapa tempat seindah dan semenakjubkan ini begitu dibenci oleh Redland, Yang Mulia? Apa yang terjadi?” Aika bertanya dengan soan. Sang Ratu hanya tersenyum.

“Sepertinya Loyd sudah bercerita banyak padamu ya, Aika. Aku takkan menyalahkannya. Sepertinya ia memang masih mengira kami pencuri batu pusaka mereka.”

“Apakah itu benar, Yang Mulia?”

“Tentu saja tidak. Sejujurnya.. batu pusaka kami juga dicuri. Saat itu, aku meminta pasukanku untuk mengabari Loyd di Redland. Tapi tak kusangka, ia mengira kami menyerang mereka. Akhirnya terjadilah salah paham, dan lahirlah perang.”

“Batu pusaka di sini juga dicuri?” Aika menatap sang Ratu dengan penuh rasa penasaran.

“Benar. Kerajaan ini dulunya tidak kusam seperti ini,” ujar sang Ratu sambil mengusap dinding kastilnya itu. “Kerajaan kami, Yellow Temple, dulu lebih makmur, bersih, dan indah. Kami pun rukun dengan daerah tetangga seperti Redland. Berkat kekuatan batu pusaka kami, kami pun dapat menumbuhkan pepohonan dengan berbagai produk kebersihan yang dibutuhkan Swapandara.”

Sang Ratu menunjuk ke arah sebuah pohon besar di hadapan mereka. Pohon tersebut menumbuhkan sesuatu berbentuk persegi panjang, yang tidak lain adalah sabun batang.

“Tapi…” Wajah sang ratu terlihat sedih. “Seseorang mencuri batu kami. Tanpa batu itu, sabun-sabun tersebut tak lagi bisa dicabut dari pohonnya. Kami tak bisa lagi menyebarkannya ke seluruh Swapandara. Bahkan membersihkan kerajaan ini pun sulit.”

Aika terdiam. Entah, ia sebenarnya merasa aneh dengan kisah pohon yang menumbuhkan sabun. Tapi, ia merasa iba di sisi lain.

“Seperti apakah batu kuning ini, Yang Mulia?”

“Batu itu.. Tampak bagai Sang Fajar di siang hari. Baik kilau ataupun warnanya yang kuning keemasan. Ukurannya sekepal tanganmu. Bentuknya bagai kupu-kupu yang membentangkan sayapnya dengan bebas,” jawab sang Ratu.

Aika mencoba membayangkan bentuk batu itu. “Bagaimana dengan pencurinya? Apa Anda tahu sesuatu?”

“Yang pasti ia bukan penduduk Redland, melihat Loyd yang begitu kesal terhadapku dan kerajaan ini. Tapi yang kuingat, sosoknya berjubah gelap, nyaris segelap malam tanpa bintang ataupun rembulan. Kemampuan pelaku itu rasanya misterius, bahkan mendekati menyeramkan.”

Kedua alis Aika bertaut. Ia mencoba menebak sosok yang digambarkan sang Ratu dengan petunjuk yang cukup abstrak itu.

Ketika pikirannya sedang fokus mencari jawaban, ia melihat pasukan burung Garuda datang menghampiri dalam satu gerombolan besar, membawa sesuatu—atau seseorang—bersama mereka.

Apa itu?

[To be Continued]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s