[Chapter 07: Kehadiran sang Penasihat]

STORY7“Ah, tampaknya kita kedatangan tamu.”

Aika dan sang ratu menatap pasukan Garuda yang tampak kerepotan membawa seorang tahanan baru dari daratan merah. Semakin lama, pasukan tersebut mendekati balkon istana untuk menurunkan pemberontak tersebut. Betapa terkejutnya Aika mengetahui siapa yang telah ditangkap pasukan Yellow Temple.

“Lepaskan aku, dasar kalian burung-burung berbulu! Beraninya kalian menyentuh Loyd si pemimpin Redland!”

Begitulah teriak sang pemberontak yang kini sedang berusaha susah payah melepaskan diri dari prajurit serba kuning itu. Kedua lengannya dikunci oleh salah satu prajurit tersebut di belakang badannya, semetara yang lainnya sibuk memegangi ekor, kedua sayap, dan kakinya. Bahkan empat orang prajurit Garuda itu pun masih terlihat kewalahan menghadapi Sir Loyd yang terlihat sangar dan bersisik itu. Tapi kemudian dengan satu ayunan kuat yang serentak, keempat prajurit tersebut melempar tubuh sang naga ke lantai kastil yang keras. Sang naga yang sedang kehilangan kemampuan terbang dan kebebasan menggerakkan tangannya itu berguling di atas lantai kastil tanpa daya melawan. Untunglah kulitnya yang terbal berlapis sisik itu tak mudah memar.

“Dasar unggas! Beraninya kalian melemparku yang perkasa ini!”

Sang ratu, Aika, dan para prajurit hanya terdiam menatap sang naga yang terus-menerus mengoceh dan menggerutu sambil berusaha keras untuk bangkit sendiri tanpa bantuan tangan yang ternyata diborgol. Aika tak habis pikir, kenapa naga yang begitu besar dan keras kepala itu bisa tertangkap oleh prajurit Garuda yang bobot tubuhnya bisa dikatakan lebih ringan? Hebat… Pastinya mereka menggunakan trik yang jitu, karena otot mereka tentu mudah dikalahkan sang naga.

Ketika Aika tengah hanyut dalam pemikirannya, sang naga yang sudah berdiri kini menatap tajam sang ratu Yellow Temple. Tatapannya begitu penuh kebencian hingga dingin dapat menusuk tulang hanya dengan membalas tatapan itu. Sebelum sang naga dapat maju untuk memberikan ancaman nyata pada sang ratu, tubuhnya sudah ditahan oleh prajurit Garuda dari belakang.

“Sudah kuduga ini pasti ulahmu, dasar penyihir! Kembalikan rakyat dan batuku! Dasar pengkhianat!”

“Loyd, tenanglah. Aku tak bermaksud mencari keributan denganmu. Aku ingin berbicara dengan tenang dan damai.”

Percuma, apapun yang dikatakan sang ratu tetap ditangkap sang naga sebaga undangan untuk pertikaian yang lebih dahsyat. Suara sang naga makin menggemuruh, menggetarkan balkon kastil tempat para tokoh berada. Namun sang ratu dan penasihatnya tetap tenang dan berkepala dingin.

“Pembohong! Lihatlah apa yang kau lakukan pada negeriku! Pada rakyatku! Saos tomatku!”

Sang ratu menghela napas ringan dan pelan. “Apa boleh buat. Bawa dia ke ruang tahanan bersama rakyatnya. Mungkin hukuman ketika fajar nanti dapat mendinginkan kepalanya.”

Aika yang menyaksikan semua itu benar-benar dilanda bingung dan rasa kaget. Hukuman? Hukuman seperti apa yang akan diterima Redland dan para penduduknya? Siksaan berat kah? Menyeramkan kah? Aika tak mampu membayangkan hal-hal yang bisa jadi kemungkinan hukuman terburuk. Setelah mendengar cerita dari sang naga dan sang ratu, ia yakin kalau perang ini terjadi hanya karena salah paham yang bisa saja dihindari. Ia harus melakukan sesuatu jika ingin ini berhenti.

“A-Ano, yang mulia!” Aika berseru. “Maafkan aku jika terdengar lancang, tapi tolong jangan hukum mereka!”

Kedua netra sang ratu berpindah tujuan dari sang naga yang tengah diseret menjauh kepada wajah Aika yang mencoba memberanikan diri di tengah keraguannya. “Mengapa?”

“B-bukankah anda percaya kalau ini bukan salah mereka? S-saya percaya ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk menghentikan salah paham ini.”

“Dan apakah sesuatu itu?”

Pertanyaan singkat sang ratu yang dilontarkan dengan nada lembut itu membuat otak Aika berputar. Salah kata, bisa saja ia pun ikut dilemparkan ke dalam ruang tahanan. Ia mencoba mengatur napasnya dan berpikir jernih. Akhirnyasatu ide yang terdengar nekat pun muncul dalam benaknya.

“Aku akan membantu anda mencari batu kuning yang hilang dan menangkap dalang dari semua ini. Mungkin terdengar gila, tapi aku akan melakukannya.”

Seolah mempelajari isi pikiran Aika, sang ratu menatap Aika dengan makin dalam. “Meski itu artinya kau harus berhadapan dengan sosok kejam apapun itu yang menjadi pemicu perang saudara ini?”

“Ya.” Jawaban Aika berikan dengan mantap. Tercermin dari sorot kedua matanya bahwa ia serius. Sang ratu awalnya ragu mengenai tawaran Aika, namun karena ia pun ingin perang cepat berakhir, ia mencoba percaya. Kenyataan bahwa Aika ada di Swapandara pasti memiliki maksud, dan sang ratu percaya meski belum tahu apa itu. Ia hanya merasa Aika memegang harapan kecil itu, terasa dari kehadirannya.

“Baiklah. Jika tekadmu sekuat itu, tak ada alasan untuk tak mencoba. Tapi aku tak yakin kau dapat melakukannya sendiri. Kau bahkan tak berasal dari sini.”

Lagi-lagi Aika diam sejenak. Ia nyaris dihajar habis-habisan di Redland karena identitasnya terungkap. Tak ada jaminan ia takkan mengalaminya lagi. Saat itulah matanya spontan melirik sosok seseorang yang baginya kuat dan dapat mengatasi sebagian besar masalah. Itupun jika sosok yang dimaksud berkenan.

“Aku akan mengajak Sir Loyd bersamaku.”

“HAAAA?!!” Sir Loyd meneriakkan protes. Ia yang baru terseret tak jauh dari tempat perkara tentu masih dapat mendengar pembicaraan tadi. “Kenapa aku harus ikut rencana nekatmu itu, bocah? Tumbuh tinggi saja kau kesulitan, apalagi menghentikan perang. Dasar pendek.”

Jleb. Jleb. Jleb. Aika yang paling tak suka dipanggil pendek itu tentunya kesal. Bibirnya mengerucut dan pipinya menggembung. Ia langsung membalas perkataan sang naga dengan emosi yang mendidih.

“Kau tak ingin membantu membebaskan rakyatmu? Aku sedang membelamu! Kau sebagai pemimpin harusnya mengerti, huh!”

“Cih.” Sir Loyd langsung bungkam. Perkataan Aika tentu ada benarnya. Kalau penduduknya melihat dirinya ikut ditahan, mereka akan hilang harapan.

Sang ratu kemudian mengangguk pelan. Memang ada baiknya Sir Loyd ikut dalam perjalanan daripada memenuhi ruang tahanan. Tapi tak ada jaminan pula sang naga akan langsung mengikuti rencana. “Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu. Tapi aku akan mengikutsertakan Carissa dalam perjalananmu. ”

Penasihat sang ratu mengambil satu langkah ke depan dengan tegap. Ialah yang dimaksud oleh sang ratu. Perawakannya mirip dengan sang ratu namun terlihat lebih lincah. Mungkin karena pakaian yang dipakainya. Dengan wajah yang tenang bahkan nyaris tak berekspresi, sang penasihat mematuhi pengarahan singkat sang ratu sebelum akhirnya sang ratu berbalik lagi pada Aika.

“Aku harap kau menepati janjimu, wahai manusia. Aku sendiri sangat menantikan saat di mana perang usai.”

Sang ratu meninggalkan balkon menuju singgasananya. Kini di dekat Aika berdirilah Carissa. Sang elf mengawali percakapan ertama mereka dengan anggukan kepala pelan.

“Salam kenal, Aika. Namaku Carissa. Kalau begitu langsung saja kita turun ke pulau gerbang untuk meninggalkan kastil.”

“Ah, baik. Mohon kerjasamanya, Carissa.”

Sang elf hanya mengangguk singkat sebelum matanya beralih pada sang naga yang sudah tak lagi diseret oleh para prajurit. Kedua tangannya masih diborgol di belakang punggungnya.

“Hei, karena kita akan pergi bersama, kenapa tidak kau lepaskan ini?” Sir Loyd bertanya sambil mendekati Aika dan sang elf. Sang elf tanpa tanggung menjawabnya dengan dingin.

“Ada baiknya kau pakai itu sampai di depan gerbang nanti.”

“A-ano…”

Lagi-lagi keringat dingin Aika mengalir. Ia dapat merasakan aura kelam antara sang elf dan sang naga yang saling menatap dengan penuh amarah. Bahkan ada petir imajiner yang dapat dilihat Aika di latar belakangnya.

Tampaknya rencana ini tak semulus yang Aika pikirkan dengan mereka berdua berjalan bersama….

Ketiganya pergi meninggalkan kastil angkasa itu dengan melompati awan-awan yang makin lama makin mendekati tanah.  Aika merasa awalnya ia akan jatuh karena bebannya yang terlalu berat untuk ditahan gumpalan-gumpalan embun itu, namun ternyata logika tak berjalan di Swapandara. Setidaknya sudah beberapa logikanya dari bumi berhasil dibantah di sana.

“Sekarang ke mana tujuanmu, pendek? Kau akan mencari batu yang jelas-jelas dicuri para elf kuning-kuning ini kan?” Loyd bertanya dengan nada menyindir, nyaris berhasil memancing amarah dari Carissa.

“Um, sebenarnya aku mendengar ada satu wilayah warna lagi di sini. Aku ingin coba mencari ke sana.”

“Maksudmu tanah gersang Grieveyard? Wilayah biru tempat hal-hal menyeramkan bersarang?” Sang elf mencoba memastikan.

Aika yang baru mendengarnya pun tentunya bingung. “Grieveyard? Seperti apa tempat itu?”

Baik sang elf dan sang naga tak ada yang langsung menanggapi. Keduanya seolah tak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan manusia cilik itu. Atau lebih tepatnya, mereka tak bisa. Akhirnya sang elf membuka mulutnya saat pemandangan mereka di atas tanah mulai memperlihatkan batas antara wilayah Yellow Temple dan Grieveyard.

Pemandangan yang suram, dengan pepohonan kering dan langit mendung tanpa cahaya sedikitpun.

“Konon sesuai namanya, di sana lah tempat tinggal malapetaka.”

[To be Continued]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s