[Chapter 08 : The Grieveyard]

story 8Sudah lewat dua puluh menit Aika berjalan bersama Loyd dan Carissa. Perbatasan area kuning dan biru yang berupa dua buah tiang batu seperti gerbang kuil-kuil lama sudah terlewati. Perlahan langit yang memayungi ketiganya berubah dari terang benderang menjadi gelap dan suram dihiasi awan mendung. Rumput ilalang keemasan yang awalnya menjadi alas mereka berjalan setelah turun dari awan kini telah digantikan oleh bebatuan dingin. Tapi ketiganya sama sekali tak menaruh perhatian pada perubahan yang terjadi. Alasannya ialah karena Loyd dan Carissa tak henti-hentinya saling adu mulut.

“Kenapa pula elf menyebalkan ini harus ikut perjalanan kita? Mereka hanya orang licik,” celetuk sang naga sambil mendengus.

“Kata orang yang sangat mengagungkan saos tomat setiap harinya,” balas sang elf tanpa menatap lawan bicaranya. Wajahnya terlihat tenang dan kalem meski sedikit lelah menghadapi sang naga.

“Produk saos tomatku lebih bagus daripada sabunmu yang tumbuh dari Pohon Soapibak , tahu!”

Apa pula soapibak, Aika hanya bisa terdiam sambil terkekeh pelan. Mungkin yang dimaksud adalah nama pohon berbuah sabun yang ia lihat di seluruh area Yellow Temple.

“Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar terus. Bukannya sang ratu sudah bilang kalau bukan dia yang mencurinya, Sir?”

“Lihat?” Sang naga mengangkat tangannya dan menunjuk Aika. “Kau bahkan sudah terhasut oleh mereka. Mereka ini hanyalah penipu yang pintar bermain kata-kata dan tampil cantik dan ganteng apalah itu.”

“Kau tak perlu mengejek kami kalau iri, wahai naga.” Perkataan sang elf berhasil memunculkan perempatan imajiner di dahi sang naga.

“Untuk apa iri padamu, tukang sihir? Cih.”

Ketika kedua penduduk Swapandara itu tengah asyik berdebat, tiba-tiba Aika yang berjalan di belakang sambil memperhatikan mereka tersandung sesuatu hingga terjatuh ke atas tanah yang dingin. Aika meringis kesakitan dan menoleh ke kakinya. Apa yang menyandungnya.

“Oow…”

“Kenapa kau ini? Tersandung kaki sendiri?” Tanya Loyd sambil memperhatikan Aika, lebih tepatnya pada kaki sang gadis. Anehnya, tak terlihat ada apa-apa di sana.

“T-tidak kok! Tadi seperti ada batu di sini,” jawab Aika, perlahan berdiri tegak lagi. Kini pemandangan di sekitarnya jelas terlihat berbeda dari Yellow Temple. Matahari di atas mereka lebih terlihat seperti bulan purnama, padahal waktu itu masih siang. Di sekeliling Aika terdapat kabut yang dingin, menghalangi penglihatan Aika dan kedua teman perjalanannya. Namun ketiganya yakin kalau mereka sama sekali tak melihat bangunan ataupun tanda-tanda adanya kehidupan yang damai. Pepohonan tak ada yang berdaun, hanya ranting yang kering kerontang. Belum lagi ditambah suara-suara yang menambah kesan menyeramkan dekat mereka. Entah suara yang menyerupai gagak, burung hantu, bell yang berbunyi, atau… ah, jangan disebutkan. Makhluk-makhluk halus terlalu menyeramkan jika benar ada di sekitar mereka.

“J-Jadi ini Grieveland..” Aika bertanya dengan gugup. Tak adanya bantahan dari Carissa maupun Loyd membuatnya yakin kalau mereka memang sudah ada di tengah Grieveland.

“O-Oi, kapan kita ada di tempat ini?” Loyd mulai memperhatikan sekelilingnya dengan agak panik. Baik di depan, belakang, kiri, maupun kanan sang naga sama sekali tak menyerupai Redland maupun Yellow Temple, sehingga ia mulai bergetar. Ia berjalan cepat ke depan, namun tiba-tiba….

BRUK!!

Sama seperti Aika, tiba-tiba saja Loyd tersandung sesuatu dan terjatuh. Ia dengan cepat bangkit ke posisi duduk, tapi entah kenapa ia merasakan adanya hawa kehadiran ‘sesuatu yang lain’ di sekelilingnya. Udara menjadi terasa lebih dingin dan lebih berat.

“A-Apa ini?! J-j-jangan ganggu aku!!”

“Sir Loyd!” Aika memanggil sang naga, ingin memastikan ia baik-baik saja. Namun jelas, sang naga yang memucat dan mematung sama sekali tak terlihat sedang baik-baik saja. Carissa yang menangkap hal itu dengan cepat mencabut belatinya, memasang kuda-kuda siaga.

“Ada sesuatu di sekitar naga merah itu. Aika, hati-hati.”

Jantung Aika lagi-lagi berdetak dengan sangat cepat. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Apa yang terjadi pada sang naga sampai ia bergetar? Ia pun yakin, Carissa tak mungkin tak merasa takut menghadapi situasi ini. Ada sesuatu mengelilingi mereka, tapi sesuatu itu tidak terlihat.

“Huaaa!! Jangan ganggu aku! Pergilah kalian!” Sang naga berteriak dan mulai memukul-mukul udara. Ada yang ‘mengganggunya’.

Carissa dan Aika hanya bisa diam di tempat. Otak keduanya berputar mencari cara keluar dari negeri biru itu. Di saat itulah sosok seorang arwah muncul dekat mereka. Dengan pakaian berjubah dan kaki melayang di atas tanah, sosok berambut pendek itu makin lama makin menampakkan diri.

“Kyaaa!!” Aika dan Loyd sama-sama berteriak. Tak salah lagi, itu adalah youkai.

Youkai tersebut memutar kepalanya perlahan, memperhatikan para pendatang baru di negerinya yang sunyi. Netranya terfokus pada sosok Loyd sang naga yang masih berusaha keras mengusir apapun itu yang sepertinya sedang ‘menjahilinya’. Lantas sang youkai bergerak mendekati sang naga–atau lebih tepatnya, yang ‘mengganggu’ sang naga.

“Ber..he..nti..”

Dengan sedikit lambaian tangan dan suara pelan yang terdengar serak, hawa keberadaan yang ghaib itu seakan terusir, meninggalkan Loyd yang mulai mendapatkan kembali rona wajahnya.

“Phew… T-Terima ka–” Ucapan terima kasih sang naga terhenti saat ia merasakan aura tak mengenakkan dari sang youkai. Dengan mata bagai ikan mati namun menatap tajam, sang youkai kembali membuka mulutnya.

“Apa… yang kalian.. lakukan.. di.. si…ni…….”

 

“Ma.. ti.. lah….”

 

[To be Continued]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s