[Chapter 01 – Kebingungan] | INORI 2018

DISCLAIMER

Sebagian besar cerita ini adalah fiksi dan bukan merupakan sejarah aslinya.


Hari ini aku kesal sekali! Mengapa? Karena aku lupa membawa tasku pulang. Semua barang termasuk kartu keretaku ada di dalam tas. Karena aku terlalu malas untuk kembali lagi ke sekolah, akhirnya aku pulang dengan berjalan kaki.

Di saat aku sedang menggerutu, tiba-tiba aku merasakan hantaman yang kuat menyerangku. Otomatis aku berusaha melihat ke arah hantaman itu. Namun, tubuhku sudah dalam keadaan terjatuh dan menggelinding ke sungai.

“AAAAAAA!”

Aku berteriak sekeras mungkin. Tak hanya karena aku kaget, tetapi juga karena aku semakin kesal. Siapa yang melakukan hal ini kepadaku?! Tak lama, aku mendengar suara tawaan yang familiar. Ternyata itu adalah anak-anak sekolah yang membenciku. Jahat sekali mereka. Mereka membenciku padahal aku tidak pernah mengganggu kehidupan mereka.

Byur!

Akhirnya aku tercebur ke sungai yang dalam. Bajuku basah kuyup. Aku melihat suatu cahaya yang terang ketika aku tercebur dan hendak berenang menuju permukaan. Karena cahaya itu membutakan penglihatanku, terpaksa aku harus menutup mataku dan menyelam sedikit lebih dalam untuk menghindarinya. Apakah ini salah satu ulah mereka juga? Jahat sekali. Ini sih, tindakan kriminal!

Cahaya itu lalu hilang. Aku langsung saja keluar dari sungai. “Bwaahh!!!” Aku mengatur nafasku agar kembali dengan normal sambil mencoba berenang-renang agar tetap berada di permukaan sungai. Eh? Apa ini? Aku merasakan ada sesuatu hinggap di atas kepalaku. Ketika aku melihatnya, itu adalah… kail pancingan?

“Hei. Aku kira kamu lele.”

Suara itu terdengar sangat datar dan kecewa. Aku melihat ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang lelaki berambut hijau dengan headband dan pakaian tradisional layaknya pakaian tradisional yang dipakai pada saat festival. Aneh sekali. Seingatku hari ini tidak ada festival sama sekali.

“Sepertinya kau suka mandi di sungai, ya. Bocah.”

Dengan wajah yang entah mengapa terlihat sangat mengesalkan, ia menghela napasnya dan membuang muka ke samping. Melihatnya, aku merasa ditantang. Aku langsung bangkit dari sungai itu dan berdiri dengan jariku menunjuk tepat ke arahnya.

“Dengar, ya! Aku bukan bocah dan asal kau tahu, kau itu lebih buruk! Kau terlihat seperti gembel.”

Aku melipat tanganku. Tentu saja aku memasang wajah yang sinis. Dasar lelaki tidak tahu malu! Hmph!

Wajah lelaki asing itu tampak kesal. Bagus. Kamu kesal, kan? Aku juga. Pada akhirnya kami berdua membanjiri satu sama lain dengan komentar-komentar mengenai penampilan kami. Aku sampai lupa kalau aku sedang dalam keadaan basah kuyup. Sampai akhirnya, kami berdua mendengar sebuah suara. Suara kecil itu menyerukan namaku.

“Ori! Hentikanlah!”

Aku menolehkan kepalaku ke segala arah, tetapi aku tidak bisa menemukan sumber suara tersebut. Kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak ada tanda-tanda. Aku mulai kebingungan. Kemudian aku merasakan sesuatu di atas kepalaku. Aku melihat ke atas.

Eh?! Sebuah boneka? Sejak kapan aku membawa boneka? Aku tidak ingat. Aku mengambil boneka itu dari kepalaku. Namun, ketika aku ingin mengambilnya, tunggu, boneka itu terbang?! Terbang sungguhan?! Secara spontan aku berteriak.

Mengambil langkah mundur, aku tak melepas pandanganku dari boneka yang terbang itu. Tunggu, dia terlihat lebih seperti pixie yang ada di game. Hah, bagaimana bisa? Aku sekarang sangat kebingungan. Pada momen itulah, aku mulai menyadari bahwa lingkungan sekitarku sudah berubah.

Aku melihat lagi ke kanan dan kiri. Bangunan tradisional di mana-mana. Tokyo yang aku ingat tidak seperti ini. Aku memutar tubuhku, menganalisis situasi. Tidak ada lagi gedung tinggi. Hal yang bisa aku lihat hanyalah bangunan tradisional.

“Tokyo tidak seperti ini. Aku ada dimana?”

Pixie itu mendekatiku. Lelaki menyebalkan itu pun tampak sangat kaget melihat sang pixie. Aku bukannya takut atau apa. Aku hanya kebingungan. Aku butuh penjelasan.

“Ini adalah Edo, bukan Tokyo,” jawab sang pixie.

E-Edo?! Tunggu. Edo itu, kan, memang Tokyo. A-Aku bingung. Aku tidak mengerti. Seseorang, tolong jelaskan kepadaku lebih jelas lagi! Aku ingin berteriak rasanya.

Pixie itu mengulurkan kedua tangannya. Tubuhku tiba-tiba bersinar. Aku bisa merasakan semua air yang membasahi seluruh tubuhku menguap. Aku hanya bisa membuka lebar mulutku.

Apakah ini mimpi? Jangan-jangan aku pingsan ketika tercebur tadi.

“Maaf. Pasti kamu sangat kebingungan saat ini. Namaku Kuzunoha. Aku seorang yokai. Kau tahu yokai, kan? Anggap saja semuanya nyata seperti game fantasi yang sering kau mainkan itu,” jelas Kuzunoha. Aku memang sudah biasa dengan menerima situasi mentah-mentah. Tetapi kalau seperti ini…. Ah, aku benar-benar ingin berteriak.

“Kau berteman dengannya?”

Lelaki itu berbicara kepada Kuzunoha dan menunjuk ke arahku. Kuzunoha menggangguk. Eh, padahal aku tidak pernah ingat berteman dengan makhluk itu. T-Tunggu dulu. Bagaimana ia tahu kalau aku sering bermain game?

“Hmm.” Lelaki itu melihat ke arahku. Aku memegang kepalaku yang sudah pusing dengan kedua tanganku. “Kalau begitu aku minta maaf karena aku sedikit kasar tadi. Namaku Inosan, kamu?” Lelaki yang mengaku dirinya sebagai Inosan ini menjulurkan tangannya. Aku, dengan keadaan yang masih sangat-sangat kebingungan, menjabat tangannya. Lho? Sejujurnya, aku sedang tidak bisa berpikir.

“Eum, aku Akane Inori, panggil aku Ori.”

Ketika sedang berusaha keras berpikir, aku melihat seseorang di belakang Inosan. Eh, apa dia mengambil sepatuku?! Benar juga, tadi sepatuku terlepas saat jatuh dari sungai.

Aku langsung mengakhiri jabat tangan tadi dan meneriaki orang itu. Fokusku yang tadi hilang langsung mengarah kepada orang itu. Orang itu langsung melarikan diri. Sepertinya dia sudah menyadari keberadaanku. Tch. Aku langsung meninggalkan Kuzunoha dan Inosan untuk mengejar orang itu.

Kuzunoha dan Inosan tampaknya kaget dan ikut mengejarku. “Ori! Mengapa kau berlari?” Kuzunoha terbang dengan cepat dan dia sudah berada di sampingku dalam waktu singkat. Aku tidak menghiraunya dan tetap berlari. Sepatu itu sangat mahal, tahu gak sih?! Ugh, dasar maling.

Aku berlari ke dalam sebuah perumahan dan daerah berdagang. Banyak orang yang simpang-siur di jalanan. Heh, rupanya maling itu sengaja berlari ke keramaian. Taktik yang sangat biasa. Aku tetap bisa melihatmu, bodoh! Hmph! Lihat, aku akhirnya dapat mengejarmu. Sedikit lagi, sedikit lagi, dan…

BUK!

Aduh! Aaah, aku terjatuh. Ketika mendongak, aku baru sadar kalau ternyata aku menabrak seseorang. Oh tidak, orang itu tampak sangat menyeramkan. Semoga aku tidak membuatnya marah. Aku dengan cepat berdiri dan membungkuk.

“Eum, saya minta maaf. Saya tidak sengaja menabrak anda,” jelasku.

Semangatku langsung digantikan oleh rasa takut. Jujur, aku sangat ketakutan. Dia tampak seperti seorang samurai. Aku melihatnya lagi dengan lebih saksama. Satu, dua, tiga, empat…, lima, enam?! Dia membawa enam pedang?! Kalau begini… Yang jelas, aku tidak akan selamat jika aku dibantai olehnya.

Inosan akhirnya menyusulku. Samurai itu langsung melihat ke arah Inosan. Kemudian, ia melihat lagi ke arahku. Tatapannya sangat tajam walaupun salah satu matanya ia tutup. Tiba-tiba, ia memegang tanganku dengan erat. A-apa?! K-kuat sekali! Aku tidak bisa melepaskan genggaman ini. Sepertinya aku membuatnya sangat marah. Ah, tidak! Aku tidak ingin mati!

Samurai itu menatap ke arah Inosan. “Kamu ingin dia selamat? Ikuti saya!”

“. . . .”

Aku melihat Inosan hanya diam dan mengangguk. Akhirnya Inosan dan Kuzunoha menurut dan mengikuti sang samurai. Tunggu! Apakah magical power Kuzunoha tidak cukup untuk mengalahkan samurai ini? Kenapa ia tidak melawan?

Apa-apaan ini. Aku mau dibawa kemana? Tidaaaaaaaakkkk!!

—————————————————-

A journey like never before. Check out our other social medias!

Line : @fvq3325o [use @ sign]

Twt : @inori_nk3

Fb : INORI – Isshoni no Monogatari

Ig : @inori_nk3

Website : https://nk3bdg.wordpress.com

#INORI2018

#TokiAkasareruRekishi

#INORI2018_Story

#Ganbaretsugo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s