[Chapter 02 – Permulaan] | INORI 2018

DISCLAIMER

Sebagian besar cerita ini adalah fiksi dan bukan merupakan sejarah aslinya.


Aku, Inosan, Kuzunoha, dan samurai yang menculik diriku berhenti di tengah hutan. Genggaman sang samurai di tanganku akhirnya ia lepas. Phew, aku menghela napas lega. Aku melihat hutan tempat kami berada. Meski hutan ini sangat lebat, terlihat sebuah kuil kecil dari kejauhan. Padahal langit biru saja tidak begitu terlihat dari dalam hutan ini.

Inosan lalu menanyakan tujuan si samurai membawa kami semua kemari. Kemudian, ia menggenggam pedangnya. Huh, mengapa?

“Maaf, sebenarnya saya membawa Anda semua karena suatu alasan yang cukup penting.” Samurai itu berbalik dan melihat ke arah kami. “Perkenalkan, nama saya Date Masamune.” Masamune pun menundukkan badannya.

Tunggu, rasanya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. AH! Biasanya nama itu muncul sebagai karakter yang overpower! Eum, intinya karakter yang kuat dalam video game. Masa, Masamune Date yang itu? Hebat sekali! Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku ini. Seketika kadar dopamine-ku bertambah demi meminta tanda tangannya.

Kabut mulai muncul dan terus menebal seiring kami berjalan kembali menyusuri hutan. Aku bisa merasakan temperatur udara jatuh secara drastis.

“Seperti yang Anda tahu, Tokugawa berubah. Ieyasu-dono membuat banyak peraturan yang tidak jelas. Sebagai seorang bushi dari hati, saya rasa hal berikut harus dibenarkan. Oleh karena itu, saya mengajak Anda,” Masamune menjelaskan dan menunjukkan jarinya ke arah Inosan. “Untuk ikut dalam perjalanan ke kediaman Kaisar Meiji.”

‘Mungkin untuk unjuk rasa,’ pikirku yang mendengarkan cerita Masamune dalam diam. Inosan melepaskan genggaman pada pedangnya. Ia memiringkan kepalanya, seolah bertanya-tanya, ‘Mengapa aku?’

“Saya tahu Anda bisa melihat youkai yang tidak bisa saya lihat, benar bukan?”

Aku, Inosan, dan Kuzunoha kaget. Maksud dari youkai yang tidak bisa ia lihat adalah…?

“Ketika Anda mengejar gadis ini, saya melihat Anda berbicara. Tetapi dengan siapa? Jawabannya hanya satu.”

Tunggu. Sepertinya yang Masamune maksud adalah Kuzunoha. Jadi selama ini orang-orang tidak bisa melihat Kuzunoha?! Pantas saja tidak ada kericuhan saat kami lewat di kota tadi. Wah, orang ini lihai juga. Glek. Ia juga memiliki 6 pedang pula….

Kemudian, sepertinya Kuzunoha menunjukkan dirinya kepada Masamune. “Sudah kuduga,” ujar Masamune.

“Maaf, Perbincangan ini harus kita simpan dulu. Hati-hati, dari belakangmu!” Seru Kuzunoha.

Di belakang Masamune, terlihat makhluk aneh berbentuk seperti gabungan antara ular dan manusia. Ah, apakah ini yang di maksud dengan yokai? Keren, tapi seram!

Masamune langsung berbalik arah dan mencabut dua pedang yang ia miliki. Dalam sekejap, ia menebas yokai tersebut dan dengan sekali tebasan, yokai itu kalah. Whoa, ia memang sangat kuat.

“Sial. Saya benar-benar tidak bisa melihatnya. Hei, rubah! Terima kasih!”

Kuzunoha menggangguk. Inosan pun ikut mengeluarkan pedangnya. “Bersiaplah. Mereka datang lagi!”

Inosan yang bisa melihat yokai tersebut langsung mengalahkannya. Namun, Masamune membutuhkan bantuan Kuzunoha untuk melawannya karena ia tidak bisa melihat para yokai.

Sementara itu, dari sini aku hanya bisa melihat mereka dan tidak bisa melakukan apa-apa. Ini pertama kalinya aku merasa sangat, sangat lemah. Aku sangat tidak menyukai situasi ini. Aku juga harus ikut membantu mereka!

“Kau ingin bertarung? Akan aku ajarkan caranya.”

Kuzunoha yang tiba-tiba datang langsung memegang kedua tanganku. Bagaimana dengan Masamune? Ia kan tidak bisa melihatnya. Dengan khawatir aku melirik ke arah Masamune. Ah, ternyata Inosan membantunya. Kekompakan mereka berhasil.

Fokusku kembali ke arah Kuzunoha saat cahaya bersinar di atas tanganku dan dirinya. Itu membuat mulutku menganga lebar. Whoaa, apa ini?! Apa ini semacam kekuatan gaib yang muncul entah dari underworld atau apapun itu?

Ketika cahayanya mulai meredup, aku bisa melihat selembar kertas persegi panjang muncul. Terdapat kanji-kanji yang tidak bisa aku baca. Siapapun yang menulis ini, ia menggunakan teknik tulis shuuji yang disebut sosho.

“Ini adalah….”

“Shikigami”. Hal itu adalah yang pertama kali muncul di pikiranku. Aku asal menebak saja apa yang mungkin Kuzunoha akan katakan. Ia pun tersenyum, seolah mengiyakan.

“Hmm, bagus juga kau sering bermain game.” Aku melihat wajahnya dan kembali tersenyum dengan lebar. Hehehe, game itu sangat rame. Favoritku saat ini adalah Pleyerknowns’s Battle Royale. Hehe.

“Sebenarnya aku baru saja menyelesaikan serial anime kembar bintang–”

“Cara menggunakannya sangat mudah. Kau hanya perlu mengatakan ‘kata-katanya’. Aku yakin kau tahu.” Kuzunoha langsung menyelaku.

Eum, ya mungkin aku agak out of topic dalam situasi seperti ini.

Aku mengangguk. Rasanya aku sudah mengetahui kata kunci ini dari dahulu.

Come out! The Twelve Divine Commanders!

Cahaya keluar dari tubuhku. Kemudian tiap warna yang berbeda–dua belas warna–muncul di hadapanku. Woah, barusan aku melakukan hal ini? Bagaimana bisa? Ah, aku tidak peduli, yang penting ini kece abis, bruh!

Aku mengarahkan tanganku ke arah para yokai yang ada di hadapan kami semua. Cahaya-cahaya tadi mengalahkan yokai-yokai itu seperti menghembuskan nafas. Sangat mudah.

Mataku berbintang-bintang. Aku berloncat- loncat sebagai selebrasi kecil bagiku. Inosan dan Masamune berbalik badan ke arahku. Aku masih belum percaya bahwa aku bisa melakukan hal ini.

“Terima kasih, Kuzu!”

Wajah Kuzunoha terlihat senang. Namun tiba-tiba, ekspresinya menurun. Bayangan besar terlihat di depanku. Aku melihat ke belakang pelan-pelan. Yokai yang lebih besar daripada yang tadi! Ah gawat! Euh, dimana kertas tadi?!

Aku tidak bisa menemukan kertas itu. Aaaa! Aku tidak ingin mati. Yokai itu semakin mendekat ke arahku. Kakiku melemah. Aku ketakutan sejadi-jadinya. Tak kusangka, sebegitu menyeramkannya. Aku sangat lemah dan kosong harapan. Tubuhku gemetar. Suhu tubuhku menurun.

Tiba-tiba, di saat aku mulai pasrah, tubuhku digendong oleh seseorang. Orang itu, Inosan yang menggunakan kecepatan cahaya, mengangkatku dan menebas yokai tersebut dengan mudah. Yokai besar itu langsung kalah dan tumbang.

Inosan menurunkanku, lalu menatapku lekat.

Deg.

“Hati- hati.” Kemudian Inosan pergi ke arah Masamune lagi.

Wha, wha, WHA?! Tadi! Wajahnya sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan dosis serotonin, dopamin, dan oksitosin dalam tubuhku meningkat seketika secara bersamaan. P-Perasaan apa ini? Mengapa rasanya mukaku memanas? Tatapannya menimbulkan sesuatu yang aneh. Eeeehhhh?!!

Selama di perjalanan, aku benar-benar tidak bisa melupakan kejadian yang tadi. Aku memegang kedua pipiku. Wahai jantung, aku harap kau cepat normal dan berhentilah berdetak tidak jelas seperti itu.


Bermacam-macam yokai pun kami temui di hutan tak tercahayai ini. Sekarang aku mengerti mengapa Masamune membutuhkan bantuan kami. Semua yokai di dalam hutan ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Orang-orang yang memiliki garis keturunan seorang onmyouji.

Kuzunoha bilang kalau aku bisa membantu Masamune melihat para yokai dengan menggunakan shikigami-ku. Ia juga bilang kalau mengeluarkan keduabelas shikigami itu secara bersamaan, stamina aku tidak akan cukup dan aku akan sangat cepat lelah.

“Come out! The Eight Divine Commander, Virgo’s Crystal Sight!”

Masamune sekarang bisa melihat para yokai dengan bantuan virgo. Wah, sekarang aku bisa melihat kekuatan sesungguhnya. Ia menggunakan 4 pedang sekarang. Berkat itu, kita menjelajah hutan dengan kecepatan yang lebih. Masamune sangatlah kuat.


Matahari pergi ke bagian bumi yang lain. Keadaan sekarang sudah terlalu gelap dan berbahaya. Oleh karena itu, kami sepakat untuk beristirahat di bawah bulan. Di pinggir sungai yang kami temukan, kami membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh. Kuzunoha dan Masamune langsung tertidur dengan lelap karena mereka memang melakukan banyak hal hari ini, wajar saja mereka sangat kelelahan.

“Hey, bocah. Kamu tidak tidur?” Inosan menegurku dengan nada yang menjengkelkan.

“Hah, bocah?! Hei, aku bukan bocah! Aku sudah berumur 17 tahun. Dan, tidak, aku masih ingin melihat langit.”

Jarang kau bisa melihat keindahan ini di Tokyo, bintang-bintang dan semesta. Zaman sekarang mungkin kau harus pergi ke kutub untuk melihat ini, hahaha. Mungkin iya mungkin tidak. Inosan pun ikut memandang mereka, benda langit yang indah.

“Indah, kan?” Angin dingin menghembus. Tanganku kedinginan. Aku memeganginya.

“Huft, dingin juga, ya….”

Inosan tiba-tiba mendekat ke arahku. Ia memegang tanganku dan menatapku lagi.

Eeeh?! K-Kenapa?! Ada apa ini! Aku sangat kaget dan tidak bisa menjelaskan situasi saat ini.

Tatapannya yang tajam, entah mengapa terlihat sangat menarik bagiku. Aduduh, sepertinya aku memang sedang terkena penyakit jantung. Jantungku berdebar dengan aneh lagi. Mengapa harus pada saat seperti ini?

Inosan menarikku mendekati api unggun. Kemudian, ia melepaskan genggamannya dan kembali duduk di batang kayu gelondongan itu. Jujur, sebenarnya aku sangat kedinginan. Namun, aku malah mematung di tempat.

“Kenapa kau diam saja, bocah? Aku sudah membawamu ke tempat yang lebih panas,” ia berkata dengan sangat santai dan tenang.

“Eeeh?!” Aku memegang wajahku dengan kedua tanganku. Aku harus berhenti melakukan hal-hal aneh ini. Aku harus bisa sembuh dari serangan jantung ini. Aku pun berdiri dan menunjukkan jariku ke arah Inosan.

“Apapun yang kau lakukan, aku tidak akan kalah! Dasar, gembel!”

Inosan terdiam. Kemudian ia tertawa dengan keras. Semoga Masamune dan Kuzunoha tidak terganggu tidurnya. Inosan menyenderkan kepalanya ke atas telapak tangannya dan ia tersenyum.

“Haha, reaksimu begitu lucu.”

Kata-katanya itu malah membuat jantungku makin berdebar. Apalagi saat ia menatapku dengan senyumannya. Mataku melebar, namun aku berusaha tetap tegar.

Aku menghela nafas dan kembali bercanda dengan makhluk gembel itu. Pada akhirnya, kami berantem lagi, sih. Pasangan yang tidak pernah akur. Tenagaku habis karena berdebat dengannya.

Namun, mengapa rasanya seperti aku ingin terus bersamanya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s