[Chapter 03 – Lenyap] | INORI 2018

DISCLAIMER

Sebagian besar cerita ini adalah fiksi dan bukan merupakan sejarah aslinya.

“Yang aku pikirkan adalah suatu tanda kamu suka dengannya.” Ia tertawa kecil.

Aku terdiam. Mengapa Kuzu menyimpulkan hal itu menjadi seseorang yang tertarik dengan orang lain? Sejujurnya aku belum pernah merasakan hal itu. Mungkin tidak akan pernah. Melihat aku yang selalu dibedakan di lingkungan sekolah.

“Aku tidak menyangka kalian akan tetap mengikutiku, ahaha. Bukannya aku tidak bersyukur atau apa, namun kalian tidak ada kegiatan lain begitu?” Masamune melahap ikan bakarnya. Kami habis saja memancing ikan untuk sarapan kali ini. Sebagian besar ditangkap oleh Inosan. Kegembelan dia ternyata berguna juga, ya.

Inosan bilang kalau ia ingin keliling Jepang. Lalu, aku? Aku saja bahkan tidak tahu alasanku ada di tempat ini.

“Kalau kamu, Akagami?” tanyanya padaku. Aku hanya terdiam dan teringat sepatuku yang dicuri itu.

Masamune dan Inosan menatapku. Kuzunoha terlihat khawatir, “Mengapa kau terlihat sedih?” Ah, aku malah memikirkan tentang apa dan membuat orang lain khawatir karena hal yang salah. Seharusnya aku tidak bersedih dan menjawab saja.

“Uh, aku sendiri sebenarnya baru sampai di Edo dan tersesat, haha.” Aku berbohong. Aku tidak bisa menjelaskan alasanku ada di sini karena aku pun tidak mengerti.

Mereka hanya mengangguk dan kembali makan. Aku pun mulai makan juga dan kami pun berbincang-bincang. Sejujurnya, aku sangat nyaman dan bahagia dengan sekelompok orang ini. Aku tidak memiliki teman di sekolah, tapi di sini aku memilikinya. Seandainya kami bisa bersama selamanya.

“Sebenarnya kita sudah setengah jalan lagi dan hutan ini pun akan selesai dalam beberapa meter lagi.” Jelas Masamune. Kita semua sudah selesai sarapan dan siap melanjutkan misi penyelamatan Edo! Haha, nama yang cukup keren kalau aku boleh bilang. Hm hm, aku jadi merasa seperti pahlawan yang akan diingat terus dan ada dalam buku paket sejarah. Mungkin diadaptasikan menjadi serial anime!

WOOOSHH. Tiba-tiba semburan air besar datang dari sungai dan membasahi kami semua. Kemudian terdengar teriakan monster yang sangat keras. Masamune dengan cepat menyuruh kita untuk mundur dan menjaga diri sendiri. Mengapa tiba-tiba ada serangan yokai disini?

Air akhirnya turun, aku bisa melihat dengan jelas musuh yang kita hadapi sekarang. Suasana berubah menjadi tegang dan Yokai raksasa itu berteriak lagi. Eh?! Sebuah lele yang sangat besar?!

“Kalian! Itu Namazu, berhati-hatilah.” Sorak Kuzunoha. Namazu? Apa itu, aku belum pernah mendengarnya. Eh, tunggu. Namazu itu tunggangannya dewa petir, Takemikazuchi, kan? Yang benar saja, kita melawan tunggangan dewa.

“Apapun musuhnya, hal dasarnya adalah amati pola serangannya, pahami, dan counter. Ayo!” Masamune mengajak Inosan, Kuzunoha, dan diriku untuk menyerang. Masamune dan Inosan mengeluarkan pedangnya dan maju duluan. Namazu bisa dilihat oleh Masamune, aku tidak perlu menggunakan Virgo.

Aku mengeluarkan shikigamiku. Kali ini aku siap untuk bertarung! Tidak ada yang bisa menakutiku di dunia ini karena aku adalah Ori, Akane Inori.

“Come out, The Eleventh Commander! Citrine Sagittarii Arrow!”

Cahaya putih keluar dari shikigamiku, kemudian membentuk beberapa panah besar. Aku mengayunkan tanganku, menunjukkan ke arah Namazu. Panah-panah itu langsung maju dan menyerang Namazu dengan kecepatan penuh.

Panah itu kemudian mengenai Namazu, ia terdorong dan menyipratkan air yang besar. Teriakannya menandakan kalau ia kesakitan karena panah tersebut. Inosan menoleh kebelakang dan melihat ke arahku. Ia tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Eh, apa coba maksudnya? Aneh.

Masamune yang melihat kesempatan, tentunya langsung menyerang kembali. Bisa dibilang mumpung musuh masih lengah, mengapa tidak? Mengambil aba-aba, kemudian berlari dengan kecepatan penuh. Mengeluarkan semua pedangnya sambil lari. Tatapannya tertuju pada satu arah. Aku yakin tatapan itu akan membuat diriku merinding, brr.

“Crescent’s Curse!” Ia berteriak dan loncat. Kemudian mendaratkan delapan, tidak, puluhan, ratusan?! Aku tidak bisa menghitung seberapa banyak tebasan yang ia berikan dalam satu detik kepada Namazu. Yang jelas itu lebih dari sembilan ribu! Bisa-bisa Namazu jadi lele cincang kalau seperti ini.

Ketika Masamune selesai dengan serangannya ia mundur dan langsung digantikan oleh Inosan. Strategi yang cerdik dan jahat sekaligus. Tidak memberikan musuh waktu untuk menyerang balik.
Namazu berteriak dengan keras, lebih keras dari sebelumnya. Sepertinya dia sudah mau kalah. Ternyata tunggangan dewa tidak sekuat itu. Serangan yang kami berikan memberikan efek jera sepertinya. Inosan kemudian meloncat mundur.

Tunggu. Mengapa aku jadi sangat ketakutan melihat Namazu? Ia terus berteriak. Teriakannya membuat burung-burung berterbangan dari pepehononan dan angin tertiup dengan sangat kencang. Langit menjadi gelap. Suasana menjadi sangat dingin. Seakan-akan ada hujan badai dan petir akan datang.

Aku tidak mengerti! A-Aku tidak berani untuk melihatnya kembali. Kakiku seakan lumpuh. Dari tanda-tanda ini, tidak mungkin dewa petir akan turun sendiri, kan?

Aku melihat ke arah kawan-kawanku. Masamune juga mengalami hal yang sama sepertiku. Namun, hal berbeda terjadi kepada Inosan yang terlihat sangat serius dan tegang, tatapannya tidak putus dari Namazu. Mengapa ia tidak ketakutan?

“Inori, Namazu menggunakan teriakkannya untuk membuatmu dan Masamune takut. Ini adalah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh yokai, fear. Semakin takut kalian berdua dan seluruh manusia di Jepang, ia akan semakin kuat. Kalau ia membuat gempa bumi, hal ini akan membuat penduduk Jepang sangat ketakukan. Oleh karena itu, jangan sampai ia menggunakan jurus itu!” Kuzunoha menjelaskan dengan jelas dan cepat. Aku hanya bisa menelannya. Aku tidak bisa tidak takut dengannya. Teriakan itu sangat efektif. Kau bisa bilang aku sekarang terparalisis.

“Aku… tidak bisa berdiri, Kuzu. Aku takut….” Seketika tubuhku semakin bergetar. Mataku berkaca. Pikiran-pikiran buruk memenuhi benakku. Kuzunoha mendekatiku dan tampak khawatir. Sepertinya ia bisa menahan fear-nya Namazu.

Kemudian aku melihat Inosan. Matanya tiba-tiba berubah menjadi biru muda. Api biru melayang muncul di sekitar tubuhnya. Apa yang terjadi kepada Inosan? Kuzunoha melihatnya juga. Ia tampak kaget.

Inosan melepas ikat kepalanya. Angin yang kencang mengerakkan rambutnya. Walaupun pada dasarnya ia orang yang dingin, tatapannya sekarang terlihat semakin tajam. Aku bisa merasakan ada aura yang sama namun lebih besar dibandingkan Namazu di sekitarnya. Seketika aku merasa takut kepadanya. Apakah ini salah satu bentuk dari fear?

“Tidak ku sangka….”

“Namaku adalah Nurarihyon! Tunduklah kepadaku sekarang!” Inosan, tidak, Nurarihyon berteriak, memerintah kepada Namazu. Rasanya aku pernah mendengar nama Nurarihyon.

“Nurarihyon adalah Komandan Tertinggi dalam Parade Malam Seratus Yokai. Apa yang ia lakukan disini?!” Kuzunoha melanjutkan kalimatnya.

Pantas saja aku mengenal nama itu. Ia adalah karakter yang muncul di salah satu game yang sedang ku mainkan. Ah, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal ini.

Mendengar tuntutan Nurarihyon, fear Namazu menurun. Namun, ia semakin tidak tenang. Seperti yang kehilangan kendali atas dirinya. Ia takut, namun ia tidak ingin.

“Kuzunoha, maafkan. Sepertinya aku tidak bisa menaklukkan Namazu dalam kondisiku saat ini.”

Kuzunoha melihat Nurarihyon. Yang bisa ku translasi dari tatapannya adalah ia tahu apa yang harus ia lakukan. Kuzunoha mengangguk dan mendekatiku.

“Inori, kau harus kuat menahan fear-nya Namazu. Inosan akan membantumu menguranginya. Sementara itu kau harus mencoba untuk menggunakan shikigamimu yang keempat. Itu kekuatanmu yang paling kuat untuk digunakan sendiri.” Kuzunoha membantuku berdiri walaupun tubuhnya yang mungil.

Dengan bantuan Kuzunoha, aku berusaha sebisa mungkin untuk bangkit kembali. Namazu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Angin menghembus semakin kuat. Tetapi Nurarihyon, tidak, Inosan berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan Namazu. Ia kemudian mencoba untuk menyerangnya.

Akhirnya aku bisa berdiri. Masamune melihatku, ia kembali berusaha sebisa mungkin untuk kembali berdiri. Kali ini dia bisa berdiri, sepertinya ia memiliki motivasi tersendiri. Hmm, mungkin dia tidak ingin kalah denganku, hoho. Sudah, sudah.

Kuzunoha dan Inosan menungguku. Aku harus segera melakukannya. Aku merasakan banyak tekanan, namun aku yakin aku pasti bisa. Aku mengeluarkan shikigamiku. Dengan lantang aku mengatakan kuncinya.

“Come out, The Fourth Commander! ….”

E-eeh, Mengapa suaraku hilang?!

Aku melihat ke arah kakiku. Tanpa kusadari, kaki ini bergetar lebih kencang dari sebelumnya. Tiba-tiba tubuhku kedinginan. Seluruh tubuhku gemetar. Pandanganku menjadi buram dan akhirnya gelap. A-apa yang terjadi kepadaku? Tidak mungkin, apakah aku akan mati?!

Terjebak didalam ruangan yang sangat gelap. Tidak ada suara apapun selain suara bernapas yang aku hasilkan. Ini tempat yang menyeramkan dan tidak indah untuk tempat seseorang meninggal.

“In… ! Ba… lah!” Aku mendengar suatu suara yang tidak begitu jelas. Rasanya suara itu memanggilku.

“Tid… da… pilihan… lakukan….” Suara yang kudengar tetap saja tidak jelas. Andaikan aku bisa mentranslasikannya. Apa yang sedang terjadi kepada kawan-kawanku?!

“KUZUNOHA! TIDAK!” Inosan! Aku tahu suara itu suara Inosan. Apa yang sedang terjadi kepada mereka? Aku benci ketika tidak bisa melakukan apapun. Argh.

Tiba-tiba ada cahaya putih yang entah darimana menerangi ruangan gelap ini dan membutakan pandanganku.

Aku membuka mataku yang masih terlihat buram. Aku melihat ke arah kiri. Inosan?! Ia sedang tertimpa oleh Namazu. Masamune sedang membantunya keluar. Aku harus membantu mereka.

“INOSAN!” Aku menyerukan namanya, bersedia berlari kearahnya. Ia telah membantuku sebelumnya, sekarang giliranku.

Kemudian Kuzunoha ada di dalam pandanganku. Ia terlihat sangat lelah. Eh, apa yang terjadi? Aku menanyakan hal tersebut kepadanya.

“Aku… tidak bisa menjelaskan. Inilah hal terakhir yang bisa ku… sampaikan.” Kuzunoha mengulurkan tangannya diatas tanganku. Seperti pertama kali ia memberikan shikigami kepadaku. Tunggu, apa yang ia maksudkan dengan hal terakhir?!

Cahaya putih muncul di atas tanganku. Déja vu. Tiba- tiba aku bisa merasakan suatu arus memasuki tubuhku. A-apa ini? Aku merasakan kebanjiran dengan… informasi. Cahaya itu meredup dan akhirnya hilang. Pada saat itu Kuzunoha terjatuh dan pingsan.

Tubuhku bersinar dan bajuku berganti, menjadi baju putih. “Ukh. “ Pakaian ini seperti pakaian onmyouji. Aku melihat Kuzunoha. Ia terbaring kesakitan. Aku benci pemandangan ini, membuatku marah. Dengan segera, aku berlari ke arah Namazu. Rasanya aku harus membalaskan hal yang telah terjadi kepada Kuzunoha.

“Come out! The Sixth Commander, Cancer Kiss! The Third Commander, Aquamarine!”

Karena Cancer Kiss, Namazu menjadi tidak bisa bergerak dalam sementara waktu. Struktur biologinya telah diubah. Anggap saja ia terkena kanker hebat dalam beberapa detik.

Aquamarine memanggil seorang siren dengan sayap malaikat. Ia memainkan harpanya. Siapapun yang mendengar melodinya, akan menjadi batu. Begitu juga dengan Namazu saat ini.

Terakhir, untuk mengakhiri semua ini.

“Come out! The Fourth Commander! Aldebaran’s Judgement!”

Sinar putih terang dengan segala tingkat kepanasannya, datang dari Aldebaran. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Tiga ribu sembilan ratus sepuluh derajat kelvin. Tidak mungkin seseorang bisa selamat.

Sinar itu mengenai Namazu. Dalam sekejap, ia langsung berubah menjadi abu. Namazu kalah. Seharusnya aku bisa melakukan hal ini sebelumnya. Aku berlari kembali ke arah Kuzunoha.

“Inori! Kau melakukannya! Maaf, tadi aku tidak bisa menghentikan Kuzunoha.” Inosan berlari mendekatiku. Masamune juga menyusul dibelakangnya.

“Tadi, kau diganggu oleh Namazu, ia menyadari apa yang kau mau lakukan. Aku dan Inosan berusaha menghentikannya namun kami terlambat dan ia menggunakan skillnya kepadamu.”

Aku mendengar Inosan kewalahan sampai terengah-engah. “Kemudian Kuzunoha mencoba membantumu keluar dari ruangan gelap itu. Namun, ia menggunakan skill yang berbahaya bagi tubuhnya. Aku… aku berusaha untuk menghentikannya. Aku tahu skill tingkat tinggi harus dilawan dengan skill tingkat tinggi, tetapi…. Maafkan aku, Inori….”

Kami semua melihat tubuh Kuzunoha yang jatuh dan tidak berdaya. Aku tidak bisa merasakan detakan jantung….

“Seharusnya aku juga tidak lama-lama menyembunyikan identitasku. Ikat kepala ini membatasi kekuatan dan auraku sehingga aku tampak seperti manusia biasa. Waktu untuk pemulihannya lumayan lama….” Dibalik ikat kepalanya terlihat banyak tulisan-tulisan kanji dengan cara penulisan yang sama dengan shikigamiku.

Inosan tampak sangat-sangat menyesal. Namun, aku sendiri tidak ingin menyalahkan siapapun. Kalau aku ingin menyalahkan seseorang, itu adalah diriku sendiri yang tidak berusaha semaksimal mungkin dan jatuh kedalam fear-nya Namazu. Aku terlalu percaya diri. Aku harap dia mengerti bahwa ini bukan salahnya.

Masamune sendiri terdiam seperti sedang menyampaikan doanya untuk Kuzunoha.

Memori antara diriku dan Kuzunoha terputar seperti menonton film. Semuanya tampak sangat nyata, tetapi tidak. Masa-masa dimana aku seringkali dibantunya. Mungkin memang pertemuan kami tidak selama itu. Namun, setiap detiknya sangat berharga bagiku.

Banyak sekali yang terjadi hari ini. Aku mengangkat dan memangku Kuzunoha. Air mataku mengalir. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Kuzunoha telah meninggal dan….

“Nama asliku adalah… Abe no Seimei.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s