[Chapter 08 : The Grieveyard]

story 8Sudah lewat dua puluh menit Aika berjalan bersama Loyd dan Carissa. Perbatasan area kuning dan biru yang berupa dua buah tiang batu seperti gerbang kuil-kuil lama sudah terlewati. Perlahan langit yang memayungi ketiganya berubah dari terang benderang menjadi gelap dan suram dihiasi awan mendung. Rumput ilalang keemasan yang awalnya menjadi alas mereka berjalan setelah turun dari awan kini telah digantikan oleh bebatuan dingin. Tapi ketiganya sama sekali tak menaruh perhatian pada perubahan yang terjadi. Alasannya ialah karena Loyd dan Carissa tak henti-hentinya saling adu mulut.

Continue reading

Advertisements

[Chapter 07: Kehadiran sang Penasihat]

STORY7“Ah, tampaknya kita kedatangan tamu.”

Aika dan sang ratu menatap pasukan Garuda yang tampak kerepotan membawa seorang tahanan baru dari daratan merah. Semakin lama, pasukan tersebut mendekati balkon istana untuk menurunkan pemberontak tersebut. Betapa terkejutnya Aika mengetahui siapa yang telah ditangkap pasukan Yellow Temple.

Continue reading

[Chapter 06 : Kisah dari Yellow Temple ]

130226“Makhluk apa kau ini, wahai yang tak bertanduk?”

Sang Ratu dengan lembut melontarkan pertanyaannya pada Aika yang berlutut di hadapannya. Tak ada kesan memaksa. Meski tak tersenyum, sang Ratu peri itu memberikan kesan ramah bagi siapapun yang melihat sosoknya. Dari penampilannya pun, jelaslah ia keturunan seorang ningrat.

Continue reading

[Chapter 04 : Kisah Sang Manusia Naga]

story4

“Kalau begitu, biarkan aku berbagi sebuah cerita menarik pada kalian.”

Dengan senyum lebar, sang manusia naga duduk menghadap Aika dan sang penggembala. Terlihat sekali bagaimana ia sangat ingin menyampaikan kisahnya pada dua figur asing di hadapannya. Ditemani beberapa gelas sirup dari Tavern dan beberapa petualang serta ksatria berbaju besi lainnya, ia memulai kisahnya dengan beberapa senda gurau yang tak dapat dimengerti Aika. Yah, secara, Aika tak berasal dari dunia itu. Tentu wajar jika ia tak tahu. Ia mencondongkan dirinya mendekati sang penggembala, berbisik padanya.

Continue reading

[Chapter 03 : Menuju Redland]

 

story 3 fix.jpg

“Baiklah, jadi… intinya kamu adalah manusia atau apalah itu yang tiba-tiba jatuh dari langit? Kau jatuh dan mendarat di atas salah satu ternakku, lalu mendarat di sini tanpa tahu apapun, benar?”

Alis sang penggembala bertaut. Sudah 15 menit Aika menceritakan asal-usulnya secara panjang lebar pada sang pemuda bermata heterokromik itu. Dari penjelasan soal manusia yang merupakan spesiesnya hingga bumi dan desa tempat tinggalnya. Tapi semakin banyak penjelasan yang ia berikan pada penggembala, semakin terlihat bingunglah si penggembala.

Continue reading

[Chapter 02 : Dunia Monokromatik]

story 2 fix

“KYAAAAAAaaaaaa!!”

Gadis pirang itu jatuh bebas di udara. Ia merasa sudah jatuh ke dalam lubang yang sangat, sangat dalam. Dasar lubang itu belum terlihat sejak satu menit lalu. Ia jatuh bagai penerjun bebas, dengan kepala lebih rendah dari kaki. Sayangnya ia tak bawa parasut. Tentu akan sakit kalau nantinya ia mendarat di dasar ‘lubang’ dengan kecepatan tinggi begitu.

Continue reading